Uluran tangan dan jemari waktu; mengais setiap butiran debu dalam udara; tebing keraguan yang menjulang mengatasi segala dataran keyakinan masih tegak menantang; jiwa larut dalam aliran kebimbangan; akankah aku harus berhenti dan menepi berharap menjumpai kepastian
***

Banyak sudah yang lalu dan terjadi; pabila itu bunga, adakalanya mekar membuka kuncupnya, menebarkan putik bunga, merebakkan keharuman. Abadikah itu?
Tiada, tiada abadi: sedikit waktu lagi akan kuning dan layu dan gugur; sampai bertemu di musim mendatang dengan warna dan wangi yang baru
***

Kalau itu api, biar dia mulai dengan kehangatan, derajat demi derajat makin meningkat dan memanas menjadi percik api dan jadilah nyala; sang api itu mengusung kehangatan, nyala api itu membakar kebekuan, dan api itu menghanguskan!
***
Pabila itu air, maka mengalirlah menjadi rintihan nadi; menjadi air yang menetes-melimpah memenuhi ruang, menjadi bongkahan es yang dingin mematikan; alirilah nadiku dengan bentuk cair, mendamaikan panas hati, lalu aku tenggelam dan ada kalanya aku beku tak merasakan sentuhan hangat. Aku beku!
***
Aku masih ragu untuk melangkah dan langkah masih panjang; mungkinkah tak satupun yang sempat menjengukku; aku rapuh ditimpa reruntuhan tebing kebimbangan; aku kabur dan tersamar dari realitas kemanusiaan yang adalah butir debu dan nafasSebab aku tak akan berhenti berucap dan memuji dan menyanjung; sebaik apapun yang pernah tersisa, itu akan aku bagi; izinkan aku di belakang supaya tidak kudapati di dalam jejak segala tetes air mata, percik darah dan keluh kesah; di depan ada Sang Khalik!
***
Bunga itu biar mekar, merekah dan mewangi; api itu biar menghangat dan membuat terjaga hingga pagi; air itu biar menyejukkan suasana jangan sampai berpisah

 

10 Februari 2002