Diriku masih menyusuri perjalanan yang terasa masih panjang; rentangan layarku masih tegas menantang samudera; kepakan sayapku yang rapuh masih cukup kuat untuk mengangkasa; Hai… seisi bumi, dalam diriku masih ada tenaga untuk melangkah; keteduhan langit terus menaungiku dengan petunjuk bintangnya; semerbak udara masih mengiringi kepak sayap mudaku. Aku masih meluangkan keyakinan untuk kuucap lugas, sahabat; mungkin kita bisa menyatu dan abadi; sejalan dengan waktu yang tak henti menguji.

Lihatlah, perjalanan yang aku tempuh adalah disertai harapan; bisa aku lihat kembali gubug kecil yang kita bangun; dan setiap ruangnya telah terisi isak tangis, tawa, dan murka; bisa aku lihat lagi senyummu di ujung setapak; saat aku pulang… penjelajahanku di ruang badai samudera adalah sebuah kehausan pada rasa air tawar yang engkau sajikan; maka beri makna aku saat aku memijak pasir di ujung tanjung; dan aku masih di angkasa, bangga dengan ketinggianku; namun aku mau mendarat di bumi, bila tubuhku mulai letih mengepak dan terbang. Sebab keyakinan itu masih ada, sahabat; aku masih akan kembali pulang, menjumpai engkau; dalam wangimu yang menawan, dalam senyum hangat; meski semua tiada gampang

Lihatlah, aku makin letih, layarku telah koyak dan bulu sayapku telah rapuh; namun aku mau pulang, menjumpai keyakinan yang masih terbaca. Tunggulah, sahabat… jika semua boleh terjadi, kepak sayap mudaku akan menuai janji

18 Maret 2002