Menempuh lorong yang entah berujung ke mana. Langkah demi langkah tersambung menjadi sebuah jalinan. Hasrat yang berujung kehendak untuk bersua. Hati memang jatuh rindu hingga letih tak terkecap pahit. Gambaran yang lembut itu jelas tergambar pada dinding lorong. Alangkah indah jika gambaran itu menjelma menjadi eksistensi.
Apa kabar sahabat. Seandainya dapat tercipta sebuah untaian aksara. Dari tangan yang patah. Seandainya dapat terlahir sebuah pikiran. Sesederhana apapun itu asal bisa terus terjaga dan menunggu. Andaikata bisa hati memberi ruang. Untuk sejenak saling bincang dalam rentang jarak. Seandainya mungkin mulut yang bisu. Berbahasa dengan kata-kata lugas. Maka yang terbaca adalah rindu. Yang terpikir adalah kapan bersua. Yang terbesit adalah sapa akrab. Dan yang terucap adalah sanjungan.

Kapan engkau tiba sahabat. Sebab arwahku telah tegak berdiri demi kakimu memijak. Bumi yang adalah tempat di mana setiap hasrat tercipta
…dan lorong itu masih panjang. Langkah tidak semakin ringan, meski pasti. Yang ada hanyalah hasrat yang tak terusik.
Yang akan bersemi di ujung lorong itu. Sebab lorong ini adalah lorong keyakinan. Bahwa ada engkau di ujung sana

25 Januari 2002