Tiadakah pernah kita memahami, sejenak diam dan bercermin di depan abyad hati, perjalanan panjang yang kita lalui telah mengusung energi, energi yang memadukan, energi yang memenangkan, energi yang membebaskan. Badai datang mengguncang: dan beserta kita, genggaman tangan membuat kita tetap bertahan, kaki yang letih masih punya tenaga untuk menopang. Kepak demi kepak sayap rapuhkita berjuang untuk terbang tinggi. Helai demi helai jatuh dan kita berpadu melawan kebekuan. Langkah demi langkah kita rebah kita tak berhenti beriring. Hanya ada satu ikrar kekal: kita akan hadapi semua bersama, terus bersama, satu tak tinggalkan yang lain, yang lain tak tinggalkan satu.

Setiap sudut jalanan kota bisa setiap saat menangis, mengenang tawa kita, merindu duka kita, diiringi lagu-lagu merdu ciptaan suasana. Dan setiap gelombang waktu yang melaju, aku menemukan keping-keping yang terhilang, pun dirimu, bukan serpihan debu, bukan butiran ragu, tetapi sukma yang menyatru. Kita akan hadapi semua bersama, semua tangis-tawa, sebab waktu masih akan berjalan, merangkul setiap insan dalam segala peristiwa
10 Februari 2003