Tubuhku letih dan mulai terbuai, ketika aliran darah melaju dalam urat darah, tiap kepingnya tersebar di penjuru tubuh, aku terkantuk dan meniadakan penantianmu, maafkan bila aku melupakan waktumu, mengendapkan janji, mengapungkan mimpi, hingga kau harus menempuh jarak, maafkan pun jika aku memudarkan parasmu, sebab energi menitipkan tubuh dalam tapak langkah, yang tak dapat kuburu di ambang malam, maafkan ragaku yang berdaging.

Sekarang istirahatlah… semoga ada mimpimu yang mengenang aku

2 Oktober 2002