Tiupan angin mengusung energimu, menembus ruang-ruang kosong tak bernafas, memapah badan yang ragu berjalan, kita menyepakati jarak, dan kita harus menyadap air mata, hanya kita yakini, kita tak jauh di hati. Besok aku ingin menjumpai senyummu, aku mau melucuti suaramu, semoga bukan isak tangis yang mengisi waktu, sebab aku bakal rindu. Aku mau diam lagi dalam kubur abu, aku sedih menapaki masa lalu. Sekarang siapa yang paham, yang mau berkata: ”aku mau diam dekat ragamu!”

Aku laksana Ayub… mengharap pemulihan tanpa diberdosakan, sebab mungkin aku sewarna kirmizi. Bulan terang di langit dalam lingkup dingin, dingin malam, malam purnama, tanpa lolongan serigala. Yogyakarta: aku berjelaga. Dalam iringan lagu malam aku menetaskan sepi, siapa mau mengerti, dirimu bisa aku kenang, di hadapan surya jingga senja, di bawah naungan bintangmu: bintang jajar tiga, di tengah keramaian kota, di antara tirai-tirai gerimis. Minum obatmu, sahabat–sehat selalu dirimu: belajar, berdoa, berjuang, dan mandiri, patuhi orang tua.

Dentuman hati yang gelisah semoga pulih, Kristus sertai kamu, aku, kita, pun Dia ampuni kita

26 Juni 2002