Aku mencatatnya di bebatuan sepanjang perjalanan, menjadikannya ukiran. Aku mengisahkan semuanya kepada langit malam yang agung. Aku menggambarkannya serupa pelangi, cantik di batas panas dan gerimis. Ingin aku bernyanyi bersamamu di pagi hari, hingga suara kita mempercepat turunnya embun. Mau kupegang terus tanganmu saat kita bersama-sama mengantar matahari memerah jingga di cakrawala senja. Tahukan kamu bahwa cinta telah mengizinkan aku melukis keanggunanmu. Tahukan dirimu bawa jarak Mars dan Venus tak lagi terasa jauh.

Aku menitipkan sekuncup bungan pada dirimu, kuhitung waktu dan percaya aku—aku tahu kapan saat mekar.

Aku menuliskan kisah ini pada setiap jejak yang menapak. Aku menuangkannya pada setiap air mata yang telah mengering. Aku menyanjungkan segala peristiwa dalam setiap senyum yang memijar. Aku rindu pada musim gugur, waktu di mana kita layu dan melebur. Aku berhasrat pada sang semi, waktu di mana kita hijau lestari.

Izinkan aku memegang jemarimu, izinkan aku mengajakmu mengitari kota, energi yang ada kita padu bersama. Yakinlah… aku menyayangimu. Apapun dirimu, bagaimanapun adamu. Sebab dari hatimu cantik lelaku

8 Juni 2003