Tubuh yang beranjak pulih itu kembali terkapar kaku, tanpa luka-luka yang perih darah, tiada yang terbalut perban.
Aku tahu saat dia mengeluh: semua terasa makin berat. Aku dapat merasakan air matanya yang jelang kering.
Aku mengerti benar kesedihannya.
Aku ada di dekatnya. Tubuh yang beranjak pulih itu letih disampingku, membeku, jauh dari wanginya musim semi. Tubuh yang beranjak pulih itu tetap berjuang meski terhisap badai, meski pikirannya ingin bicara: aku menyerah! Dia tetap berjuang.

Kristus… Engkau tetap gunung batu, benteng selamat!

23 Mei 2002