Radioku masih menyala pagi itu. Aku bangun dengan nafas agak sesak di tambah dengan batuk. Siaran Pro 3 RRI masih berkumandang. Ya, aku begitu cinta radio akhir-akhir ini.

Kenikmatan tiada tara mendengar radio. “Di radio aku dengar lagu kesayanganmu…Kutelepon kerumahmu, apa kabar sayangku…” begitu almarhum Gombloh pernah menulis lagu. Lagu lama, yang mungkin anak zaman sekarang tak ada yang tau. Ada juga Sheila On 7 yang ngarang lagu radio. Radio jadi sarana untuk “menemukan hatimu lagi…” gitu kata Sheila (representasi anak zaman sekarang). Walau begitu, aku toh juga bukan anak zaman dulu; aku anak zaman sekarang geto loh…
Hmm, RRI masih kupanteng hingga siang. Lagu-lagunya lawas, tapi aku suka. Penyiarnya tua (baca: senior) tapi gak membosankan. Isu yang diangkat aktual. Mulai dari Lumpur Lapindo, Perekonomian, pendidikan, dll.
Radio Republik Indonesia…Aku mungkin makhluk langka. Makhluk dengan usia kur-kuran (20-30 taon) yang setia dengan RRI. Tak masalah. Sebagai variasi n nambah isi otak dengan hal positip. Kupikir itu masih lebih baik ketimbang nonton acara TV yang masih harus milih-milih: mau sinetron yang mana, mau nggosipin siapa di infotainment, mau liat horor, mau ini …mau itu…
Radio, terpaksa kumatikan. RRI Pro 3 aku matikan. Kamarku jadi sunyi. Tak ada gelombang elektromagnetik, kecuali dari telepon genggam milikku. Aku harus pergi sore itu..Akhir kata, sekali di udara tetap di udara!