“Sudah seminggu ini aku tak punya uang sama sekali. Tak ada serupiah pun dalam dompet dan kantongku,” katamu sore itu saat kita sedang menikmati suasana di depan masjid kampus UGM. Suasana ramai di sini. Maklum ini bulan Ramadan. Sore gini banyak orang yang kumpul, nongkrong, sambil nunggu buka. Aku sendiri nggak puasa. Angin sore bertiup cukup keras. Memberi sedikit kesejukan pada orang-orang yang sedang menanti detik-detik buka. Membuat mulut yang sedikit dahaga menjadi segar. Meredam emosi yang kadang muncul karena macetnya jalanan kampus UGM.

“Aku dengar keluhmu Kawan,” bisikku dalam hati. Aku cuma bisa berbisik, itupun dalam hati. Memang ini bukan untuk kau dengar.

“Maklumlah, uang saku dari tempatku bekerja belum aku terima sampai sekarang.” Kau meneruskan ceritamu. Dan aku mendengar. “Aku sedang berpikir untuk keluar dari pekerjaan ini. Bukan karena aku tidak menikmati. Bukan karena aku tidak betah. Oo, aku sangat betah. Aku hanya ingin punya pekerjaan yang tetap. Mengalami seperti apa rasanya mendapat gaji. Haha…kekanak-kanakkan ya!” Aku masih mendengar, Kawan. Dan mungkin kau kekanak-kanakkan. Tapi tidak juga. Bukankah sejak kemarin seharusnya kantongmu sudah terisi uang saku?

“Aku tetap bersyukur. Kenapa? Karena paling tidak aku selalu bisa mengisi bensin motorku. Lima ribu sekali isi, cukup barang dua hari. Bahkan kemarin ada teman kantor yang meminjami uang sepuluh ribu. Lumayan bensin bisa terisi separo tangki. Kalau motorku ada bensin, berarti aku bisa jalan; ke kantor, ke tempat pacar, ke mana-mana lah.. Kadang, demi penghematan, aku ‘mengharamkan’ memacu motor lebih dari 40 km/jam –dengan gigi tiga, di ringroad sekalipun.” Angin sore kembali terasa bertiup kencang. Meredam letusan gemunung hatimu. Aku masih mendengar, Kawan.

“Lihatlah sore ini. Kita melihat langit. Jingga. Angin bertiup. Sepoi. Aku merasakan Tuhan memeliharaku. Jehova Jireh! Sekeliling ramai lalu lalang; sepeda motor, mobil, bis kota yang arogan, dan manusia pejalan kaki. Kita di sini duduk menanti buka. Dan kau mentraktirku sekali lagi, haha.” Tawamu memecah diamku. Aku turut tersenyum. Tidak tertawa. Azan berkumandang. Tiba saatnya buka. Kau dan Aku larut dalam suasana mereka yang buka. Terpancar kelegaan di setiap wajah. Juga wajahmu yang sebenarnya juga tak puasa.

“Ya, sebenarnya cerita kita tak jauh berbeda, Kawan.” Kataku, kali ini bukan dalam hati. Sedikit berbisik dengan bibirku. Dan untuk kesekian kali, kau tak perlu mendengarnya…