Untuk pertama kalinya kita duduk di tepian Code. Di trotoar, di atas talut Code. Air Code 20 meter di bawah sana mengalir lirih. Kemarau panjang ini membuat alirannya tak seberapa besar. Hanya gemericik. Mengairi kolam-kolam kecil di pinggiran, mengairi karamba. Ada ikan di sana.
Sudah malam. Jam 20.30 tepatnya, menurut jam yang tertulis di handphone-mu. Handphone-mu baru, baru dua minggu. Kita lelah di sini. Bukankah karena sejak petang tadi kita jalan keliling kota. Melintasi Malioboro yang pikuk. Kita selalu kompak mengamati plat nomor setiap mobil yang terjebak macet. Tujuh puluh persen plat luar kota. Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang. Liburan lebaran mereka mampir ke Jogja. Aku senang kotaku jadi tujuan wisata, tapi aku tak suka kotaku macet.
Mampir makan sate dan bakmoi. Tapi kita belum kenyang; dan akhirnya kita berhenti di tepian Code. Sebuah warung kecil menyaji jagung bakar dan pisang bakar. Kita pun memesannya. Ditambah VanilaLate dalam cangkir mungil. Panas.
Tapi angin cukup kencang. Dingin.
Kita bicara banyak. Mengenang banyak kisah. Aku minum sedikit demi sedikit VanilaLate milikku, lalu kau juga menyicip bakwan yang kau beli dari angkringan sebelah.
“Hey, lihat…ada pesawat yang bersiap mendarat dari langit Barat.” teriakku tak terlalu keras. Bagus sekali. Kau mengangguk tanda setuju. Siluet pohon mendampingi pendaratan itu. Ada sebuah bulan sabit yang juga mengiringi pesawat makin merendah. Mmhhh…bulan sabit, kenapa kau di sana. Makin menambah kegelisahan hati.
“Hey, lihat juga itu di langit Utara. Kembang api memecah kelam langit malam.” Katamu berteriak dengan suara lebih keras dari suaraku tadi. Ya, aku juga melihatnya.
Kita sama-sama menyaksikan langit malam. Kita sama-sama memandang hiasan langit malam. Kembang api, bulan sabit, pesawat. Namun tak ada bintang. Hanya mendung menutup.

“Terima kasih.” kataku
“Untuk apa?’
“Untuk semuanya.”
“Semua?! Maksudmu?”
“Iya, untuk semuanya. Dukunganmu. Nasihatmu. Bahkan dalam kemarahanmu aku selalu bisa mengambil makna. Aku mau berubah. Aku bisa berubah.”
“Kamu tahu, apapun yang terjadi kita adalah sahabat yang paling luar biasa. Melewati tahun-tahun yang berat bersama. Aku tak akan pernah meninggalkanmu!”
“Aku juga!” ucapku pelan.

Kita kompak hari ini. Atasan coklat. Sama-sama baju baru. Bedanya, kau membelinya dengan uangmu, sementara aku mendapatnya dari pemberian orang lain.
“Sudahlah, yuk kita pulang. Sudah malam. Bukankah besok kita masih akan berjalan jauh. Membunuh waktu, menikmati waktu.” Kataku sambil mencoba berdiri; kakiku kesemutan.
Malam ini, dengan rambut berikat tali warna ungu, kau manis sekali. Sungguh…