Seketika jalanan menjadi sepi dari lalu-lalang kendaraan. Hari sudah malam. Dan hujan turun. Ini malam adalah hujan pertama yang turun menyejuki kemarau bumi. Tak deras memang, tapi cukup untuk membasahi tanah hingga beberapa lapis di bawah. Tak cukup deras tapi cukup untuk merontokkan daun-daun yang tersisa di pepohonan, yang sudah mulai layu dan menguning, kemudian beberapa minggu lagi menjadi semi kembali.

Mmhhh…dingin, basah, dan sepi. Aku melaju dengan sepeda motor. Menembus malam dalam keremangan lampu kota. Kututupkan kaca helmku biar wajah tak basah. Mantel yang selama satu musim ini tersimpan lipat rapi di bawah jok sepeda motor akhirnya aku keluarkan. Aku pakai. Sedikit mengurangi rasa dingin.Aku terus melaju. Pulang…

Di dalam hujan ini pula aku mengirim salam kepada saudara-saudara di Bantul sana. Batas kota Bantul memang tak seberapa jauh dari sini. Lima belas menit pun aku bisa sampai di Bantul.

Aku tahu masih banyak di antara kalian yang kedinginan. Tidur di bawah tenda. Tak sempat dan bahkan tak ada dana untuk mendirikan rumah yang lebih layak. Aku masih ingat malam itu, dua hari setelah gempa, hujan gerimis turun dari langit di atas mu. Seperti derasnya hujan malam ini. Dan sekarang sudah hujan lagi. Tak ada tempat teduh. Lepas dari tanah becek, bebas dari dinginnya butir air hujan. Aku sempat berkata, janganlah hujan turun pada malam hari karena kesusahan pasti semakin meradang.

Tetapi mengucap syukurlah dalam segala keadaan. Aku tak dapat bicara banyak. Tak ada nasihat dan kata bijak untuk menguatkan kalian. Aku berdoa…