“Dialah Damai Sejahtera yang Telah Mempersatukan” (Efesus 2:14)

Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada, salam sejahtera dalam Kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan penuh sukacita dan rasa syukur kita menyambut Natal, kelahiran Penebus dan Juru Selamat dunia.

1. Tantangan untuk Hidup Damai:
Di tengah sukacita Natal ini, kita menyadari bahwa suasana kehidupan kita akhir-akhir ini diwarnai oleh berbagai kekhawatiran dan ketakutan. Kenyataan hidup sosial politik tetap hangat, beban ekonomi terasa semakin berat, sementara bencana alam dan wabah penyakit melanda berbagai wilayah. Kebebasan hidup beragama mengalami banyak hambatan dan ada usaha adu domba antarumat beragama. Sementara itu, krisis kepercayaan antara penguasa dan rakyat, antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan antara satu kelompok dengan kelompok lain mengancam kehidupan bersama. Bangsa ini belum sepenuhnya bersatu. Berbagai perbedaan seringkali tidak dipandang sebagai kekayaan tetapi justru sebagai alasan untuk memisahkan diri satu dari yang lain. Akibatnya, perbedaan seringkali berakhir dengan pertentangan dan perpecahan. Kita semua merindukan kehidupan bersama yang penuh damai sejahtera dan damai sejahtera ini hanya dapat terwujud bila seluruh warga bangsa bersatu.

2. Kristus, Damai Sejahtera Kita:
Kenyataan yang kita hadapi ini memang berat namun tidak boleh membuat kita kehilangan harapan. Kelahiran Yesus mendatangkan sukacita besar. Sukacita itu melekat dalam diri setiap orang beriman yang mampu menghayati hakikat dan makna kelahiran Yesus. Ia lahir sebagai sebagai manusia, menjadi senasib dengan manusia, dan terbuka menyambut semua orang yang datang kepada-Nya. Ia hadir di dunia untuk mewujudkan kasih Allah kepada manusia (1Yoh. 4:9). Kasih Allah itu berpuncak pada kayu salib ketika Yesus menyerahkan nyawa untuk menanggung dosa seluruh umat manusia. Kepada Jemaat Efesus, yang dilanda bahaya perpecahan dan sedang berupaya keras untuk memelihara keutuhan jemaat, Paulus menunjukkan bahwa Yesus adalah damai sejahtera yang telah mempersatukan berbagai pihak yang berbeda (bdk. Ef. 2:14). Peran dan hakikat Yesus Kristus sebagai damai sejahtera diwujudkan secara nyata dalam karya penebusan-Nya. Dalam kurban salib-Nya Ia menumpahkan darah bukan hanya untuk sekelompok orang melainkan untuk seluruh umat manusia. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa Kristus mengasihi semua manusia tanpa membeda-bedakan. Dengan demikian, Ia mempersatukan semua orang di dalam diri-Nya agar mereka dapat hidup bersama dalam damai sejahtera. Dalam hubungan dengan sesama baiklah kita memandang setiap orang dalam iman kepada Kristus. Dengan menyadari bahwa darah Kristus juga tercurah untuk mereka, maka setiap orang yang mengaku diri sebagai pengikut dan murid Kristus akan mengasihi orang itu, walaupun dalam kenyataannya orang itu bersikap seperti musuh. Kasih dan pengurbanan Kristus untuk semua orang itulah yang hendaknya menjadi dasar hubungan dengan sesama, dan bukan balasan yang akan diperoleh dari mengasihi sesama. Bila kasih Kristus yang menjadi dasar kasih terhadap sesama, orang tidak akan patah semangat, menutup diri, dan berhenti mengasihi karena merasa bahwa kasihnya tidak mendapat tanggapan dan tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan.

3. Ajakan untuk Mewujudkan Hidup Damai:
Penegasan Kitab Suci bahwa Yesus Kristus adalah Damai Sejahtera yang telah merubuhkan tembok-tembok pemisah memberikan pencerahan dan kekuatan baru bagi kita. Oleh sebab itu, marilah kita merayakan Natal dengan penuh syukur sambil berusaha menghayati panggilan untuk mewujudkan hal-hal berikut:
• Merubuhkan tembok-tembok pemisah yang selama ini menyebabkan adanya sikap terlalu mementingkan diri atau kelompok.
• Menghayati kehidupan gerejawi yang lebih terbuka dan bersahabat sebagai sumbangan nyata bagi terwujudnya Indonesia baru yang berkeadaban.
• Mengungkapkan kebenaran tanpa takut dan gentar, memperjuangkan kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera, menghargai Hak Asasi Manusia, dan menegakkan hukum yang berkeadilan.
• Mengupayakan terus penggalangan hubungan dan kerjasama dengan seluruh warga bangsa, dengan tetap menghargai kemajemukan, kekayaan budaya bangsa, dan senantiasa bertekun dalam mempertahankan dasar Negara Pancasila.
• Memperjuangkan kesejahteraan ekonomi bersama karena tidak ada damai selama tidak ada perbaikan ekonomi dan selama sebagian besar warga bangsa ini hidup dalam belenggu kemiskinan.

Di tengah situasi negeri kita sekarang ini janganlah kita menyerah pada kesulitan dan penderitaan. Kita perlu tetap mewujudkan sikap yang tulus dan setia dalam menjalin kerukunan dengan semua orang. Dan dalam suasana Natal ini baiklah kita mengingat dan meneladan Yusuf, suami Maria, yang beriman dengan sederhana dan terbuka, senantiasa taat kepada panggilan Ilahi, juga ketika berhadapan dengan kehendak Allah yang berada di luar pengertiannya. Ia peka terhadap suara Tuhan dan dengan kepercayaannya ia menyelesaikan banyak hal tanpa banyak kata (bdk. Luk. 2:1-7; Mat. 1:18-2:23).

SELAMAT NATAL 2006 DAN TAHUN BARU 2007

Jakarta, November 2006
Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia & Konferensi Waligereja Indonesia