“Awal tahun nanti aku akan pulang kampung.”
“Untuk seterusnya?”
“Tidak.”
“Lalu berapa lama kau akan pulang?”
“Satu sampai dua minggu. Mungkin. Malah bisa lebih lama.”

** Orang tuamu memang sudah sedemikian rindu padamu. Sudah lama engkau tidak pulang. Engkau satu-satunya anak yang ada di perantauan. Pantaslah mereka merindukanmu. Merayakan awal tahun dengan banyaknya pembicaraan keluarga yang akan terjadi. Mereka pasti akan bertanya kapan Kau menikah! Mmh, itu pertanyaan klasik dan memang pertanyaan itu sudah tepat untuk diajukan padamu.
Ya, Kau pulang kampung. Ke daerah pinggiran di Sumatera Utara. Menurut ceritamu, daerah itu sangat sejuk, alami, banyak hutan. Wih, seandainya aku bisa ke sana, aku pasti juga akan menyukainya. Sama seperti kamu menyukainya, kamu begitu bersemangat ketika menceritakannya.

“Bagaimana perasaanmu jika nanti waktu aku pulang, orang tuaku tiba-tiba menjodohkan aku dengan orang lain? Barangkali dia lebih mapan, seorang manajer mungkin…”
“Kau serius?!”
“Iya, aku serius.”
“Entahlah, aku belum bisa menjawabnya sekarang.”
“Tapi kau kan bisa mengira-ira seperti apa reaksimu.”
“Aku tidak mau mengira-ira hal semacam itu. Mungkin aku akan shock mendengarnya. Kecewa. Mengasihani diri– tapi tidak sampai gantung diri. Mungkin pula aku turut berbahagia. Ah, tapi itu tak mungkin. Bagaimana aku bisa bahagia mendengar kabar itu. Pertanyaanmu ada-ada saja!”
“Bukan mengada-ada. Tapi aku pun tahu seperti apa reaksimu. Wajar. Aku pun tidak tahu mesti menolak atau menerima seperti Siti Nurbaya. Tapi kan Siti Nurbaya bukan kawin paksa! Siti Nurbaya hanya korban kekuasaan dan terutama kebodohan ayahnya yang begitu saja menyerahkan anak sendiri sebagai alat pembayar hutang. Orang tuaku tidaklah seperti itu. Mereka modern. Demokratis.”
“Iya, aku tahu itu.”

**Kepulanganmu, meskipun cuma beberapa minggu, pasti membuat aku kehilangan banyak hal. Banyak cerita bersamamu akan tertunda. Tapi semoga kita, dalam jarak itu, bisa membangun hidup lebih baik lagi. Merencanakan cita-cita bersama.
Hey, bukankah Januari hanya 30-an hari lagi. Tapi masih ada Natal dan tahun baru yang bisa kita lewatkan menjadi salah satu cerita indah dalam lembar hidup. Kerinduan orang tuamu semoga terobati. Juga kerinduanmu. Kalian bisa berkumpul lengkap, keluarga inti.

“Jadi bagaimana?”
“Ya, Itu bisa kita diskusikan nanti. Tetapi semoga engkau lebih memilih kembali ke kota ini: menjumpaiku. Tidak ada perjodohan ‘paksa’, yang ada perjumpaan denganku…!”
“Baiklah.”