Benar kata orang bijak, hidup memang tak selalu mudah. Setiap hari selalu saja ada persoalan. Setiap hari selalu ada keletihan yang memberi jarak pada semangat untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu. Pilihannya cuma menjadi produktif atau tidak produktif. Ketika gelas sudah terisi penuh dengan air, apakah air itu meluap –terbuang percuma, atau akhirnya bisa diteguk siapapun yang dahaga. Sementara itu, entah dari teko mana, air itu terus mengucur mengisi gelas. Teko yang tentu saja memiliki cadangan air yang lebih banyak untuk terus-menerus dituang dan tak pernah henti mengalir, bahkan tak juga menetes. Air Hayat.

______
Saya tak begitu sering mengamati tetumbuhan. Sekali pernah mengamati bagaimana pohon pisang tumbuh. Seseorang mencoba menebang sebatang pohon pisang yang dipikirnya lama tak berbuah. Selain itu, keberadaannya menghalangi orang yang lalu lalang melintasi pekarangan rumah. Orang harus menunduk atau membelokkan langkah biar tak tercegat pohon pisang. Beberapa minggu lewat, pohon pisang kembali bertunas. Makin besar. Belum juga berbuah. Dilakukanlah orang itu hal yang sama: menebang. Pun tak lama segera bertunas lagi. Hal yang sama lagi dilakukan. Tiga kali, empat kali, dan seterusnya. Dan kali ini pohon pisang berbuah. Menguning, ranum, dan manis. Saatnya buah di pangkas. Jadilah si pemilik menikmati sedapnya. Pohon itu, tak menunggu di tebang, layu dengan sendirinya. Mati dengan sendirinya. Dan pahamlah si pemilik: Hidup pohon pisang belum tuntas selama buah belum dihasilkan. Sekali berbuah sesudah itu mati. Atau kata Chairil Anwar: Sekali berarti sesudah itu mati!

Soal menghayati hidup, saya sampai pada kesimpulan hidup memang tak selalu mudah. Mungkin perlu diperjuangkan. Kenapa mungkin? Karena bagi beberapa kalangan, perjuangan seolah tak menghasilkan apa-apa. Tak menghasilkan kaya. Tak menghasilkan tiket jalan-jalan ke luar negeri. Tak menghasilkan vocer belanja di mal terbesar. Tak menghasilkan sekilo beras (yang harganya sekarang meningkat drastis, tak terbeli). Hanya menghasilkan keletihan, frustasi, depresi, dan bunuh diri.

Lalu di mana atap dan dinding sebuah makhluk bernama hudup yang mudah? Sampai kapanpun mungkin tak pernah diketahui keberadaannya. Tak tahu kapan terjadi.
Yang ada cuma hidup yang dihayati. Bahwa di tengah ketidakmudahan ada senyum. Ada semangat. Ada semacam introspeksi bagi diri. Semoga intospeksi ini menghasilkan energi yang akhirnya dapat menyalakan padamnya api orang lain. Menghasilkan energi yang bisa meneteskan bahan bakar bagi yang redup.

Dan hidup tak selalu harus menghasilkan kaya. Menghasilkan tiket jalan-jalan ke luar negeri. Menghasilkan vocer belanja di mal terbesar. Menghasilkan sekilo beras. Ups…tapi untuk yang terakhir disebutkan ini bagaimanapun tetap penting. Saya saja merasa nggak makan kalau belum makan beras yang di nanak dan menjadi nasi. Hidup menghasilkan sesuatu yang berguna. Semacam buah pisang yang mengenyangkan, sementara sang inang sudah mati layu.

Ini bukan mentang-mentang renungan akhir tahun, tapi semata-mata sebuah isi hati dalam menanggapi beberapa masukan dari sahabat tentang diri saya. Pas saja waktunya akhir tahun. Terima kasih untuk segala pertemuan yang membuahkan penghayatan atas hidup. Menghargai sesama, menjadi lebih menusiawi tidak saja saat ada di kenyamanan “surga” tetapi di bawah “surga”. Ada saudara yang berjuang siang malam menghayati hidup tanpa ada tambahan sekilo beras.

Menghayati hidup ternyata sangat manusiawi. Karena kemanusiawian itulah maka tidak salah jika kita harus berkeringat mencapai sesuatu. Bukankah siapapun pernah berkeringat. Persoalannya, ada yang seumur hudup berkeringat lelah, ada yang berkeringat sedikit saja sudah bisa ongkang-ongkang kaki menikmati passive income.
______

Menjadi gelas yang menerima aliran Air Hayat, membagikannya bagi orang lain yang dahaga, meskipun keringat tak juga berhenti menetes. Air Hayat yang membuat kita bisa menghayati hidup. Selamat berjuang. Selamat menghayati hidup. Selamat menyambut natal. Selamat menuju tahun yang baru. Tuhan memberkati.