Hujan sudah lama turun. Sudah gerimis. Sudah deras. sudah menumbangkan pohon-pohon tua. Sudah menerbangkan atap-atap rumah yang lapuk. Sudah membuat beberapa tempat di Jogja banjir.

Hujan sudah lama turun…
Hujan tak lagi bermakna buatku selain air yang menetes dari langit dan membasahi pun membanjiri bumi. Rintiknya tak lagi kunanti dengan dendam. Tak tercium bau tanah basah. Biasa!
Tapi siang itu, seorang kawan berlari kecil menaiki tangga rumah.
“Yuk melihat hujan!”
Aku diam. Adakah yang aneh dengan hujan kali itu?!
Tidak ada.
“Ayo, barangkali kita bisa melihat pelangi!”
Hah…pelangi? Ya, pelangi. Kenapa tak terpikir. Gejala alam di angkasa dan tak pernah seorang pun menggerutu karena kemunculannya. Benda angkasa yang khayali tetapi tak ada satupun yang membenci hadirnya.

Pada zaman Nuh, Allah memunculkan pelangi sebagai tanda perjanjian bahwa Dia tak ‘kan lagi menurunkan air bah. Air bah: sebuah hujan maha dahsyat, menenggelamkan bumi. Barangkali bukan hujan badai, tetapi hanya hujan. Semacam air yang digelontorkan dari langit dalam berlaksa tetesan tanpa henti– berhari-hari. Tetesan bak pisau yang perih bagi lambung bumi.

Pelangi. Aku menantikannya. Dan aku mengingatmu, sayang! Membayangkanmu berada di bawahnya. Berpayung warna surga. Berpayung janji Allah. Berhias lengkung pertanda seminya tetumbuhan di muka bumi. Berdandan pada terang cakrawala.

Pelangi.
Siapa menghujat hadirnya.
Siapa murka pada warnanya.
Siapa amarah pada lenkung busurnya.
Pelangi.
Kagum.
Tetapi cantik itu hanya milik siang;
dan sesungguhnya, aku ingin memandanginya siang malam. Sebab mungkin saja cantik itu bisa terus aku selipkan di atas rambutmu yang tergerai, sayang! Hiasan yang akan menemani tidur malammu…