Natal, di manapun, selalu diperdengarkan dengan irama sukacita. Setiap nadanya digubah demi menyunggingkan sedikit senyuman di bibir yang duka.
Natal selalu dirajut di banyak tempat. Setiap helainya dijalin supaya menghangatkan yang dingin.
Natal senantiasa di racik sedemikian. Setiap bumbu dan bahan panganan diolah demi mengenyangkan perut si lapar.

Natal kali ini terasa menyesakkan. Kadarnya mungkin lebih menyesakkan dari pada tahun lalu. Atau mungkin sama sesaknya. Begitu banyak manusia yang masih mengungsi. Gempa di banyak tempat, lumpur di Sidoarjo, tanah longsor, banjir, dan sebagainya.

Tetapi saya berharap, kita selalu bisa bersyukur dalam situasi seperti ini. Saya tak bermaksud menggurui, apalagi menjadi sok tahu dengan semua penderitaan yang orang lain alami sehingga saya begitu mudahnya mengatakan ini. Saudara, bukankah selalu ada alasan untuk bersyukur. Segala tempat segala waktu, kita bersyukur.

Selamat Natal, Saudaraku!