Hangatnya menyentuh permukaan kulit. Mengusap kulit ari. Menyelusupi pori-pori, perlahan hingga mengusir seluruh dingin di tulang. Pun angin meniupi udara dengan sekian banyak kenangan yang telah berlalu kemarin. Yap! Tahun sudah berganti.

“Ini baru namanya malam taon baru…” Katamu.

Fiuuh…Usai Gereja, tengah malam, jalanan macet. Tapi tak terlalu macet dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu kita memang tak sempat keluar rumah sekadar menikmati pergantian masa. Memilih senyap dalam mimpi. Meskipun tidur, aku bisa merasakan ramainya malam pergantian tahun waktu itu. Dan kini sepi. Tapi ada rembulan. Purnama tampaknya. Bukankah sejak malam Natal lalu tak tampak bulan dan langit yang cerah. Tahun baru yang indah. Semoga. Kembang api sesekali meledak di langit malam. Ada beberapa yang tak sempat meledak dan benderang memecah malam. Bunyi petasan layaknya lebaran; tetapi hari ini lebaran juga: lebaran Haji. Masih saja kita melaju mengelilingi kota. Menikmati setiap jalanan yang agak sepi, sesekali ngebut dan menginjak rem ketika ada kendaraan di depan. Dan tentu saja dinginnya malam tak bisa kita hindari. Mencicipi aroma asap knalpot yang mengepul saat terjebak macet. Keadaan ini menjadikan siapapun berhak membunyikan klakson tanpa takut ada yang peka’ telinganya. Pula ada suara terompet keras. Bising. Semua larut dalam riuh malam tahun baru; dengan caranya masing-masing.

“Aku senang. Karena aku tak mau sendiri melewati malam taon baru ini…”

Mungkin orang-orang masih kekenyangan daging kambing dan daging sapi. Jadi semua lelap tidur. Idul Adha menjadi penghujung tahun. Melewati beberapa ruas jalan tercium bau kambing bakar. Aku ingat kemarin sore Bapak menerima pemberian beberapa potong daging kambing dari tukang sol sepatu di depan rumah beserta satu kepala kambing. Bapakku paling suka itu. Dan kini kita benar-benar terjebak macet. Sepertinya akan lama. Kita di alun-alun Selatan berhenti sejenak melihat langit, pesta kembang api. Padat manusia. Aku sebenarnya tak suka karena keadaan begini banyak orang yang suka cari gara-gara. Mulai naik motor yang ugal-ugalan sampai orang mabuk. Dan di alun-alun ini kita mendapati jam menunjuk 00:00 WIB. Ya, Tahun baru!

“Selamat tahun baru, Sayang!”

Kawasan Gondomanan macet, Hotel Inna Garuda macet. Aku mengubah arah perjalanan ke arah pasar kembang. Mmh, pasar kembang semarak! Entah karena lampu kota, entah karena pejalan kaki, atau karena wangi kembang yang menghablur di mana-mana. Nah di sini tak macet. Tapi aku yakin kawasan Tugu pasti macet. Tak apalah, bukankah kau mencari suasana tahun baru di tengah kota.

“Kenapa diam?”
“Aku mulai ngantuk.”

Tidurlah, sayang! Aku senang bisa mengantar kantuk padamu. Menjadikanmu tidur nenyak malam–pagi ini. Selamat tahun baru, Sayang.

Matahari masih hangat hingga siang ini. Aku menanti kisah yang akan terjadi. Tetaplah di sini, sepanjang tahun ini. Menikmati perjalanan dari gerbang ke gerbang. Aku menanti pesan pendek– dari siapapun. Darimu…