Kesenyapan ini tak pernah bersuara sekali pun
Cuma angin yang sesekali mengembus
membelah kehampaan
Kegelapan ini tak juga mendapati cahaya
Pijar bintang cuma sesekali mengirim kerlip
dan memantul di cekung ombak
Kemandegan ini layaknya labirin yang tak ketemu ujung
Kelok bin sempit
dan tersisa lelumutan yang lembab
menambahkan rasa frustasi

Masallembo,
1 Januari 2007

Kau tak akan pernah menemukan aku
sebab kau cuma melintas dan tak hirau
Kau tak mungkin menemukan aku
sebab aku tak lagi terpandang–
terpandang bagi kaum mayapada

Mungkin kau harus mulai merelakan aku
mengenangku

Aku tidak pernah kemana-mana
. Hanya di sini
Terapung dalam kehampaan waktu
Terdampar dalam derasnya angin
Terduduk di atas cadas penantian
Melayang di awang harapan
Sesekali melompat
Seringkali melambai

Masallembo,
1 januari 2007

Aku menjadi satu-satunya yang hidup
dengan sisa udara segar yang aku hirup
sampai mana sanggup
Aku menjadi satu-satunya yang bertahan
dengan hangatnya unggun harapan
entah hingga kapan
Aku menjadi yang sendiri
mengarungi semesta sepi
hingga lelahmu henti mencari
sebab aku hanya di sini: di bumi
hanya tersembunyi

Mungkin kau harus mulai merelakan aku
merenungkanku

Tuhan
Engkau Maha Misteri
Sangkan Paraning dumadi
Silakan usap mata hati

Masallembo,
1 januari 2007

Melintasi samudera dan hilang arah
Menjumpai kesenyapan tanpa suara
Menggulungi kegelapan yang tak bercahaya
Mendiami kemandegan tiada ujung

Mungkin kau harus mulai merelakan aku
meletakkan nyalaku dalam hati
dan
masih ada harapan!
Ya, Tuhan!

Jogja, 7 Januari 2007