Seperti biasanya, Jogja cerah sepanjang hari. Mendung sesekali muncul. Numpang lewat. Entah di mana kumpulan uap air itu menumpahkan dirinya. Sebuah berita di koran lokal yang sempat aku baca merilis sebuah pernyataan dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Cuaca di kawasan Jogja pada bulan Januari ini memang aneh. Keanehan muncul karena biasanya ketinggian air pada bulan Januari sekitar 300 mm. Dan kali ini tak lebih dari 150 mm. Tidak penting bagiku semua angka-angka itu. Tetapi curah hujan memang tak terlalu besar. Sehari dua hari hujan, kemudian tak juga gerimis berhari-hari. Bukankah Januari itu kata orang “hujan sehari-hari?”

Di dalam cerahnya udara hari ini, aku memandang ke Utara. Seperti biasa, Merapi tegak menantang. Gunung paling aktif di dunia itu masih seperti biasanya: penuh misteri. Kepulan asap membumbung di puncaknya. Ada yang mengepul juga dari lerengnya. Mungkin ada aliran lahar.

Kita selalu punya waktu untuk menikmatinya. Mengaguminya. Tak jarang decak kagum kita itu muncul bersamaan dari mulut kita masing-masing. Sempat pula kita memburu pemandangan indah itu dari Jembatan Code, di kawasan Sudirman. Suatu senja. Tampak juga Merbabu di belakangnya. Di Barat Laut ada Sumbing. Indah, bukan…

Aku rindu itu. Kehangatan suasana itu.