Sebelum ini, aku tak pernah memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Makhluk kecil yang beterbangan. Yang selalu hinggap di segala yang indah. Di padang kembang, di halaman rumah nenekku. Yang aku sentuh sayapnya, aku elus kepalanya, yang kaki mungilnya aku ajak bercengkerama. Yang tubuhnya penuh hiasan warna-warni –aku yakin Tuhan sendiri yang mengecatnya. Yang aku tahu, dulu waktu kecil, aku sering mengejarnya dengan beberapa saudara sepupuku. Waktu musim bunga. Bunga mekar. Ada yang kuning, merah, biru, banyak warna…

Beberapa saat yang lalu kau mengingatkanku pada semua itu. Ketika biduanita Shanti sedang melantunkan suaranya yang merdu, di sebuah pusat perbelanjaan. Pada stand microphone-nya terpasang hiasan kupu-kupu berwarna putih.

“Shanti kan suka kupu-kupu.” bisikmu.

Dentuman suara band yang mengiringi nyanyian Shanti terasa begitu kencang, tetapi suara bisikanmu tetap lebih jelas terdengar. Entah kamu menyukai Shanti dan tembang-tembangnya. Atau kamu suka dengan kupu-kupu itu. Mungkin kau suka keduanya. Tapi aku suka kamu! Kupu-kupu yang terbang. Kukagumi keindahanmu.