Jumat ini disebut orang Jumat Agung. Seperti sebutannya, maka memang hari ini sungguh agung nyatanya. Hati bergetar mendengar kata agung yang ditambahkan pada kata Jumat. Munculnya pun cuma sekali setahun di kalender. Suatu Jumat tentang Wafatnya Kristus pada Salib, dua ribu tahun yang lalu. Kristus yang 100% Manusia dan 100% Tuhan. Kristus yang menanggalkan (–dan meninggalkan) seluruh atribut-Nya sebagai Allah untuk menjadi Manusia. Kristus yang semula adalah something menjadi nothing. Kristus yang membayar lunas seluruh dosa umat manusia yang percaya dan menerima Dia sebagai Juru Selamat.

Jumat Agung. Bermacam orang merayakannya dengan, tentu saja, caranya masing-masing. Sebuah tv swasta menayangkan seorang wanita yang memaknai Jumat Agung ini dengan mengunjungi dua orang yang menderita sakit. Satu orang, dia laki laki, usia 17 tahun, tetapi sejak 13 tahun lalu dia menderita penyakit. Dia mengalami penurunan daya tahan tubuh yang drastis sehingga banyak luka-luka ditubuhnya menjadi sulit sembuh. Dan dia cuma terbaring dalam tilam. Seorang laki-laki lain, seorang anak kecil. sekitar 7 tahun usianya. Dia menderita hidrocepallus, kondisi kepala yang membesar karena berisi cairan. Setelah kepalanya dioperasi dan pulih, justru dia menjadi lumpuh karena ada bagian pada jarungan otaknya yang rusak.
Dan…tahukah kau apa yang mereka katakan?! Pria 17 tahun berkata “Terima kasih atas perhatian Saudara semua. Saya ingin segera sembuh. Saya ingin melayani Tuhan. Tetapi kalau ini yang terbaik dari Tuhan, ya biar terjadi kehendak-Nya!” Kemudian si kecil berkata “Saya pengen Oom saya (si pria 17 tahun) sembuh!”
Siapa yang punya iman seperti kedua orang ini?? Keterbatasannya menjadikan mereka punya kesempatan menunjukkan betapa kasuh Allah pada mereka itu cukup! Bahkan bisa menguatkan orang lain!
Kemudian mereka menyanyi:
S’mua baik…s’mua baik….Apa yang t’lah Kau perbuat di dalam hidupku…..!

Di suatu tempat yang lain, ada orang-orang yang memaknai Jumat Agung justru dengan mengadakan repat! Saya berpikir, tidak adakah hari lain yang bisa dipakai untuk rapat?! Sudah habiskah hari sehingga orang musti memilih hari yang semestinya dipakai untuk meneduhkan hati, merenungkan dengan lebih mendalam kasih Allah, melewatkan waktu bersama keluarga, dsb…Orang justru berat mengorbankan satu atau dua hari kerjanya untuk dipakai rapat. Apakah kerja jadi segalanya?! Ah, tapi apa urusanku…Itu keputusan mereka!

Aku, Jumat Agung ini, ada di kampung halaman. Bangun agak siang, tetapi merasakan kedamaian hari ini. Menikmati orang-orang yang giat bekerja. Mereka sedang sibuk memanen padi. Dan aku menikmati suasana itu…Suasana Jumat Agung, bahwa Tuhan senantiasa menyediakan rejeki bagi umat-Nya. Bahwa Tuhan senantiasa menumbuhkan tetumbuhan pangan meski kemarau berkepanjangan. Bahwa Tuhan juga ada di hatiku…Dia yang selalu menjadi segalanya bagiku.

Duh, Gusti Yesus. Kawulo pasrahaken gesang lan pejah kulo. Kanthi gumolonging manah….

Sugeng Jumat Agung, selamat menyambut PASKAH…..