Dulu aku mengidolakan Kahlil Gibran; dan sekarang pun masih. Sekarang aku juga menyukai Pramoedya. Alasannya —menurutku kedua orang itu tak pernah kehabisan kata dalam menulis wanita. Mereka suka menulis tentang wanita.

Pun kau wanita. Dan pun aku suka menuliskanmu kata-kata.
Kata-kata yang bisa selalu aku letakkan pada daun jendela; supaya ketika aku melihatnya kala pagi, aku jadi ingat untuk membukanya dan menyambut matahari yang memancar hangat.
Kata-kata yang aku gantungkan pada langit kamarku; supaya ketika aku bersiap lelap, aku menyimpan harap engkau muncul dalam mimpi sekejap.
Kata-kata jadi senjata untuk memuja. Kata-kata menjadi mata air untuk dahaga. Kata-kata untuk kamu, hai wanita…

Gibran dan Pramoedya yang kaya bahasa, aku menimba kata!