Pesawat berbiaya murah itu mendarat dengan mulus di Polonia. Perjalanan merambah langit memang agak bergoncang. Entah pilot entah cuaca penyebabnya. Tapi aku mencoba melelapkan mataku. Dicengkeram hawa dingin air conditioner. Ini kali kedua aku menjejakkan telapak kaki dikotamu. Kota ini selalu menderu dan bising di telingaku. Suara klakson seolah tak memberi ruang bagi kesabaran. Laju kendaraan lalu lalang tak memberi kesempatan bagi pejalan kaki sekadar berjalan di trotoar, pula menyeberang.
Pulang ke kotamu…Bukan Medan, tapi Porsea. Tepatnya Paritohan. Mobil penjemput melaju di malam pekat. Kondisi tubuhku yang letih sesudah terkapar karena flu dan batuk membuat aku makin nyenyak di kursi tengah Kijang. Sesekali terbangun. Dan tidur lagi. Aku melewatkan perjalanan malam yang menyenangkan menuju rumahmu. Sempat terbangun dan tersadar: sampai di Parapat hujan turun lebat. Hhmm, keindahan Parapat yang sering kau ceritakan itu menjadi tak sedikitpun memesonakan aku. Hanya gelap pekat. Dan deras hujan. Lelampuan sesekali menyeruak dari balik belantara hutan malam.
Setengah dua pagi. Dan mobil berhenti di depan rumahmu. Kabut tebal. Dingin. Maklum dataran tinggi. Dataran tinggi yang konon dulu merupakan sebuah gunung: Gunung Toba. Letusan gunung ini adalah yang terbesar di dunia dan sepanjang zaman. Hasil akhirnya adalah Danau Toba sebagai kepundan gunung yang telah mati serta menyisakan Samosir di tengahnya. Pun aku jadi teringat Kaliurang, sebuah tempat di lereng Merapi.

Aku jatuh cinta dengan tempat ini. keramahan orang-orang di sini. Dinginnya. Kabut malamnya. Sunyinya. Tetapi tempat ini terlalu jauh dari “peradaban”. Sebagai tempat week end barangkali menyenangkan. Satu bulan satu kali setiap akhir pekan. Lihat saja, setiap akhir pekan, orang-orang di sini justru berbondong menuju kota: Medan. Betapa sepinya tempat ini. Tempat di mana aku jatuh cinta padamu. Tempat di mana udara masih sejuk. Angin masih terasa segar. Nafas masih melegakan segenap tubuh.

Terima kasih telah membawaku ke tempat ini. Terima kasih karena kau izinkan aku menyaksikan kenangan masa kecilmu. Tempatmu melewatkan masa kanak. Terima kasih karena tempat ini sungguh berbeda dari kampung halamanku. Semua berbeda. Sangat berbeda. Dan aku mencintai perbedaan ini.
Dan demam, flu, dan batukku berangsur pulih. Kesejukan tempat ini mendamaikan aku. Mengobati rapuhku.

[ Kak Dea, selamat atas pernikahanmu. Selamat berbahagia. Hati-hati di tempatmu yang baru, pandai pandai menyesuaikan diri di Kupang. Oom dan Tante, terima kasih atas sambutannya yang penuh dengan keramahan. Saya akan bawa cerita ini ke rumah. Saat saya pulang ke kota saya. ]