Pertama kali aku mengenalmu sebagai Ningsih. Tak berapa lama aku mendapatimu menjadi si Norma. Sejujurnya, tidak penting engkau menjadi Ningsih si pelacur atau pun Norma sang ibu dosen. Apakah kau begitu hangat saat berada di antara lelaki hidung belang atau kau yang hangat ketika ngerumpi di antara ibu-ibu yang hobi nggosip. Semua tidak penting sebab kaulah yang telah menyelamatkan aku dari preman kampung yang menggodaku, mengejarku, dan tentu saja bermaksud menyetubuhiku. Dan darimu aku belajar banyak.

Jogja dalam kesan pertamaku sangat jauh di bawah standardku. Cukup ramai dan bising, meski tak sesemrawut Jakarta. Hari pertama aku tiba, malam harinya aku mampir di warung lesehan. Aduuh…jorok sekali. aku mesti makan di pinggir selokan yang bau. Tenyajiannya juga tak steril. Tapi apa boleh buat, dikantongku cuma ada lima ribu rupiah.
Inilah awal dari perjumpaanku denganmu. Inilah malam yang mengantarku kepadamu. Inilah lorong-lorong pekat dan sempit yang memapah lelahku memasuki kamarmu. bersembunyi dari pria-pria aneh yang jalang mata.
Aku cuma memakai oblong sekadarnya serta celana pendek yang cukup pendek. Sudah pendek kubilang pendek lagi…Juga bersepatu dan tas ransel.

Pertemuan malam itu kau memperkenalkan namamu Ningsih. Seorang pelacur. Ups, maaf, Pekerja Seks Komersial, maksudku. Ah, tapi apa bedanya. Yang satu cuma lebih enak dan sopan didengaran dan yang satu lebih kasar. Dan bukankah kau menyebut dirimu sendiri pelacur. Pelacur Pasar Kembang…Hah! Pasar Kembang?! Pantas saja, mata-mata jalang itu selalu mengamatiku dengan tajam. Bahkan ada sepasang mata pria yang saking jalangnya berlari terlalu kencang sehingga meninggalkan sepasang kaki yang seharusnya berkuasa mengatur kecepatan langkah badan. Becanda… Aku masuk kawasan yang tak pernah aku bayangkan. Kawasan di sebelah Selatan Stasiun Tugu. Ya, dan meskipun di tempat ini, kenyataannya aku berjumpa denganmu, Ning. Tepatnya mbak Ningsih (karena kau lebih tua dariku). Sepanjang sore hingga malam engkau ada dalam pelukan lelaki yang tentu saja bukan suamimu.
Beberapa malam terlewat. Suatu kali kau membawaku ke tempat di mana kau menginap saat sedang tidak ngobyek. Tempat di mana kau merasa terhormat. Tempat di mana kau asyik ngerumpi dengan para ibu yang mudah diperdaya hanya dengan kata seolah bermakna. Tempat di mana kamu mengenalkan diri sebagai dosen. Kau aman di sini. Rumah kost dengan induk semang yang unik. Si suami begitu menghormatimu. Si istri yang selalu meragukanmu: benarkah kau dosen? Tetapi, ada yang membuat kau lebih aman. Di sini ada Mas Parno. Ya, Mas Suparno nama lengkapnya. Pria muda. Pengamen. Ganteng. Tapi bajunya itu-itu terus yang dipakai. Baju lurik lengan panjang dan kaos oblong putih. Entah, apakah dia pernah mencucinya. Serta ada juga yang selalu menemani mas Parno kemanapun dia pergi: Sepeda onthel tua yang remnya sudah lama blong…Selain itu, dia juga pinter main gitar. Tapi Mbak Ning tidak suka pada mas Parno. Tidak suka atau pura-pura tidak suka. Pernah suatu kali (bahkan sering) aku jalan-jalan dengan mas Parno dengan membonceng sepedanya, dan Mbak Ning mulai tampak judes. Bukan padaku, tapi pada mas Parno. “Ini dia yang namanya cemburu!” tawaku dalam hati. Mas Parno juga pernah menciptakan lagu untukku. Suaranya biasa saja, mengarah ke ancur, tapi lagu itu bermakna buatku. Semakin sering aku kalan bareng dengan mas Parno, mbak Ning semakin cemburu. Tetapi sebenarnya dia sayang pada mas Parno. Suatu malam, mas Parno kecelakaan saat mengendarai sepedanya dan mbak Ning yang memperbaiki remnya yang blong dengan membawanya ke bengkel. Dan yang baru aku tahu, mereka pernah pacaran, tapi cuma empat jam. Begitu mas Parno tahu mbak Ning pelacur, dia langsung mutusin mbak Ning. Lucu ya, tapi nyatanya begitu.
Mbak Ning dari Madiun. Dia sebenarnya seorang janda. Suaminya meninggal karena sakit. Mbak Ning menikah usia muda dan suaminya pun masih kuliah di Jogja. Suaminya meniggal dengan meninggalkan banyak hutang. Mbak Ning pun malu untuk kembali ke Madiun karena di sana pun keluarganya punya hutang banyak untuk biaya rumah sakit suaminya. Akhirnya, mbak Ning mengambil jalan pintas menjadi pelacur di Pasar Kembang.
Lain lagi mas Parno. Dia cukup kesal dengan mbak Ning yang dicintainya itu lantaran ketika mereka sedang jalan-jalan (baca: kencan) suatu pagi, gempa besar melanda Jogja dan adiknya yang berada di rumah meninggal karena tertimpa bangunan. Tragis memang.

Aku bisa mengerti penderitaan yang mereka alami. Aku bisa mengerti mengapa mereka bisa mengambil jalan hidup seperti sekarang ini.
Kereta itu mengantarkan aku tiba di Jogja kala pagi. Dengan alasan mengejar kekasihku yang sedang daki gunung bersama kawan dari mapala, aku bulatkan tekat ke Jogja. Sekaligus aku lari dari kenyataan hidup. Aku lari dari ibuku yang mau menikah lagi padahal belum genap setahun ayah meninggal. Belum kering pusara ayah; dan ibu sudah menggandeng pria lain kerumah dan menanyakan apakah aku setuju kalau dia menikah lagi. Tidak. Dan ibuku tak ubahnya seperti pelacur. Seperti mbak Ning. Aku tahu, penyebab kematian ayahku adalah aku. Suatu pagi, subuh mungkin, aku pulang dari dugem. Aku mengendap-endap masuk rumah supaya tidak ketahuan. Ternyata ayahku bangun dan mengambil minum di dapur. Supaya tidak ketahuan keluyuran, aku pura-pura olah raga di samping rumah. Ayah tahu dan keheranan aku bangun begitu pagi. Lalu (dengan basa basi) aku mengajak ayah jogging. Eh, dia mau…Aduuhh! Sepulang jogging yang penuh pura-pura itu, ayah kena serangan jantung. Tuhan, ampuni aku…
Dari situlah aku tahu artinya kehilangan orang terkasih.
Kembali ke soal mas Parno dan mbak Ning. Keduanya, sejujurnya masih saling mencintai. Mas Parno sok angkuh karena mbak Ning seorang pelacur, sedangkan mbak Ning jual mahal karena tidak suka dengan sepeda ontel butut yang remnya blong itu. Di tambah lagi mas Parno itu kere!

Suatu hari, kedok mbak Ning sebagai mbak Norma, sang ibu dosen terbongkar. Warga kampung ramai-ramai mengarak sepanjang jalanan sempit kampung. Ada yang melempar, ada yang memukul, dan yang paling keras adalah umpatan itu. Aku memeluk dan memapah mbak Ning untuk berjalan. Mbak Ning menangis sambil melangkah gontai. Aku lebih keras menangis. Pedih hatiku melihat dan mengalami kenyataan ini. Kejadian kematian ayah seolah terbayang di pelupuk mataku.
“Angkat kepalamu dan jangan menangis!” ucap mbak Ning kepadaku dengan kata yang terbata-bata. Kami terus berjalan. Berjalan. Berjalan sampai segala serapah itu makin terdengar di kejauhan. Berjalan sampai tak ada lagi pukulan mengenai tubuh gontai kami. Ya…aku angkat kepalaku dan kuhentikan tangis ini, mbak. Meski aku tahu pedihmu. Meski aku rasa rintihmu.

Rumah mas Parno menjadi tujuan kami. Tempat mengungsi sementara. Kekasihku mengajak aku kembali ke Jakarta beberapa hari lalu, tetapi aku menolaknya. Aku nyaman di sini. Dunia dan mas Parno dan mbak Ning telah menjadi surga, sedangkan kemewahan Jakarta menjadi jahanam bagiku. Tetapi aku tahu, aku telah menjadi sandungan bagi cinta mas Parno dan mbak Ning. Meski mereka tak pernah mengungkapkannya, tetapi perasaanku terdalam bisa memahaminya.

“Mas Parno, mbak Ning, aku pulang. Aku kembali ke Jakarta. Besok pagi. Sepedih apapun kenyataan di keluargaku, aku mesti ada di tengah mereka. Menjumpai ibu, menjumpai kekasihku, dan sesekali menengok pusara ayah. Semoga kalian bahagia. Semoga sepeda butut itu menjadi kebanggan mbak Ning, sebab remnya tidak blong lagi, kan? Semoga bagi mas Parno, pelacur atau bukan pelacur bukanlah masalah, karena cinta mas Parno lebih besar dar itu. Kalian pasti bahagia sampai tua. Aku juga bahagia. Terima kasih sudah mengajarkan arti hidup kepadaku. Memaknai kehilangan sebagai awal perjumpaan pada sesuatu yang lain yang lebih besar dan indah. Memaknai cinta bukan dengan kemewahan ataupun suci dan tidaknya seseorang. Memahami cinta ‘meskipun’, bukan cinta ‘karena’. Sekali lagi, kalian pasti bahagia dengan apa yang kalian miliki. Dan aku bahagia memiliki kalian. sampai jumpa.”

Pintu rumahku terbuka lebar. Rumah ini seolah senantiasa menungguku pulang. Aku menjadi anak yang hilang dan kini pulang, dan rumah ini menyambutku dengan pintu yang terbuka lebar. Aku masuk, dan menjumpai ibu dalam gulana. Ibu, peluk aku. Aku rindu padamu…

Dan namaku Shanaz!

(Mengejar Mas-mas, Rudi Sudjarwo)
Sebab matahari tak perlu dikejar!