CERITANYA sungguh memilukan, tetapi makin sering terdengar. Pola-pola kejadiannya selalu sama. Seorang wanita didekati oleh seorang atau beberapa pria. Ia disapa dengan ramah dan sopan sebagaimana berlangsung dalam pertemuan biasa. Namun, akhirnya ia menyerahkan dompet, perhiasan, atau harta benda lain kepada si pria itu, seakan-akan dengan sukarela. Bahkan terjadi, ia mengantar pria itu ke bank, menarik uang berjuta-juta rupiah dari rekeningnya dan memberikan semuanya kepada orang yang tidak dikenal itu. Setelah pria itu pergi, baru ia menyadari bahwa ia menjadi korban penipuan. Semuanya dilakukannya dalam keadaan hipnotis.

Untuk yang bersangkutan, peristiwa macam itu amat memfrustrasikan. Seandainya ia kedatangan pencuri malam hari atau ia dirampok atau barangnya dijambret orang yang kebetulan lewat, kejadiannya akan terasa berat juga. Namun, dalam situasi seperti itu ia sendiri tidak berdaya. Ia jadi obyek kekerasan pihak lain. Sebaliknya, dalam kasus hipnosis tadi ia sendiri menyerahkan barangnya, sehingga setelah sadar kembali ia merasa jengkel sekali dengan dirinya sendiri. Ia melakukannya karena dimanipulasi oleh orang lain, di luar kemauannya. Ia dipermainkan kira-kira dengan cara yang sama seperti kita menghidupkan dan mematikan pesawat televisi dengan remote controller.

Kasus macam ini punya banyak implikasi psikologis dan etis. Pertanyaan psikologis adalah mengapa selalu wanita yang menjadi korban. Tidak pernah kita dengar tentang laki-laki yang menjadi korban penipuan hipnosis. Dan pelakunya selalu laki-laki. Pasti ada faktor psikologis yang menentukan.

Dari segi etika dapat diketengahkan bahwa perilaku seperti itu sangat tidak bermoral. Manipulasi itu melanggar otonomi manusia. Kebebasan manusia itu diperkosa. Ia diperlakukan seolah-olah sama dengan boneka saja.

Meski demikian, di sini bukan tempatnya membahas segi psikologis dan etis dengan lebih mendalam. Dalam konteks ini kita ingin menyoroti pemakaian bahasa, kalau orang berbicara tentang peristiwa macam ini. Di sini tampak lagi fenomena bahwa adjektiva dari bahasa asing dicampuradukkan dengan nomina, seperti sudah pernah diisyaratkan dalam kolom ini (Kompas, 25/9/2004). Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga menjelaskan hipnosis sebagai nomina: ’keadaan seperti tidur karena sugesti…’. Menghipnosis disebut sebagai verba: ’melakukan hipnosis’. Sedangkan hipnotis adalah adjektiva: ’berkenaan dengan hipnosis’.

Yang mengherankan adalah bahwa dalam tulisan-tulisan surat kabar hampir selalu hipnotis (adjektiva) dipakai sebagai nomina, atau verba (mestinya: menghipnosis) dibentuk berdasarkan adjektiva. Beberapa contoh yang semua diambil dari harian Kompas. “Penipu dengan hipnotis menjual Rolex palsu” (8/1/2001). “Penjahat hipnotis ditangkap” (11/9/2001). “Awas hipnotis di bank” (14/3/2004). “Dihipnotis, Ai Cheri rugi Rp. 73 juta” (15/8/2004). “Pedagang bendera dihipnotis” (16/8/2004). “Wanita dihipnotis, Rp. 150 juta amblas” (28/8/2004). “Dihipnotis, Rp. 106 juta amblas” (3/9/2004). “Mahasiswi dihipnotis” (22/9/2004). “Pembantu dihipnotis, harta majikan dikuras” (6/11/2004).

Jika kita merefleksikan pemakaian kata-kata ini, aneh sebenarnya bahwa hipnosis dan hipnotis begitu mudah dicampuradukkan. Dengan kata lain yang sejenis bentuknya tidak terjadi begitu. Misalnya, kata analisis. Verba adalah menganalisis dan adjektiva analitis. Dalam pemakaiannya tidak ada kesulitan. Tidak pernah kita membaca kalimat seperti teks itu dianalitis oleh para pakar, umpamanya. Selalu akan dipakai dengan tepat dianalisis. Mengapa dengan hipnosis dan hipnotis tidak demikian?

Asalkan disusun dengan benar, sebuah kamus memberi norma untuk memakai kata-kata sebagai nomina, adjektiva atau verba. Yang mengherankan, kalau kita menganggap penjelasan dalam KBBI sebagai norma, dalam surat kabar (dan dalam bahasa sehari-hari) hampir tidak pernah kita menemukan pemakaian kata hipnosis dan hipnotis yang sesuai dengan norma. Bahkan KBBI melanggar normanya sendiri. Sebab, dalam contoh yang menjelaskan lema barbiturat, sejenis obat tidur, KBBI mengatakan ’digunakan untuk hipnotis dan anastetis’ (hlm 108). Rupanya kuat sekali kecenderungan memakai adjektiva ini sebagai nomina!

*) K Bertens, Guru Besar, Pusat Pengembangan Etika, Universitas Atma Jaya, Jakarta
KCM, Sabtu, 15 Januari 2005