Sudah malam. Jam sembilan lebih. Langit mendung, dan gerimis belum turun. Mungkin tak pakai gerimis; langsung hujan lebat. Tapi aku tak mengharapkan gerimis atau hujan lebat. Sebab aku masih harus mengendarai sepeda motorku ke sebuah warung makan yang menawarkan menu iga bakar di kawasan Sagan; di sebelah utara Lembaga Indonesia Perancis. Ah, tapi mungkin bukan warung makan; lebih tepatnya restoran, karena sepintas tempatnya mewah.

Tak sampai semenit, aku sudah sampai. Lokasinya memang tak jauh dari rumah; tak sampai satu kilometer dan setiap hari pasti aku lewati. Ya, hanya lewat, tapi tak pernah mampir makan. Usai memarkir kendaraan aku berjalan menuju ke sebuah meja yang ada di sisi paling luar restoran itu. Tak ada atap, hanya payung bundar yang cukup lebar menaungi satu buah meja bundar, empat buah kursi—semuanya dari kayu, dan kami berdua. Engkau sudah menunggu dan sambil tersenyum engkau melambaikan tangan, memastikan bahwa aku berjalan menuju ke meja yang benar.

“Hey, sorry nunggu lama,” sapaku

“It’s okay,” jawabmu sambil masih menampilkan senyum terbaikmu.

Petugas restoran tampak berjalan mendatangi meja kami.

”Mau makan?” tanyamu

”Nggak, lah. Aku sudah makan kog.”

Si petugas yang berbusana hitam-hitam itu lantas kembali ke tempatnya setelah bertanya dengan ramah: ”Selamat malam. mau pesan apa, mas?” Hm, lumayan ramah. Aku amati, setiap tamu yang datang pasti mendapat sambutan ’selamat datang’ diiringi senyum, dan ketika pergi pun di antar dengan serangkai ucapan terima kasih dan lagi-lagi senyum ramah. Aku amati sekeliling. Ada yang membawa notebook. Mungkin ada hot spot di sini. Ada yang mengotak-atik handphone. Ada yang berbincang. Ada pasangan; ada pula rombongan.

Panjang lebar kami bicara sambil menanti makanan yang sedang disiapkan koki di dapur. Beberapa kali tercium bau asap daging bakar. Sedap.

”Pesan makanan apa?” aku bertanya sambil mencicipi minuman pesananmu. Segelas es jeruk plus madu yang mengendap di dasar gelas.

”Ayam bakar.”

”Lho, kok enggak pesan iga bakar? ’Kan mumpung ada di warung iga bakar.”

”Huh mahal!” katamu sambil memonyongkan bibir. Senyummu hilang sesaat.

”Berapa?”

Pembicaraan terhenti saat petugas restoran datang mengantar menu pesanan.

”Berapa?” tanyaku lagi kali ini setengah suara, meski si petugas sudah mempersilakan makan dan beranjak pergi.

”Ini aja pesan ayam bakar, tahu berapa harganya?”

”…”

”Lima belas ribu!!!”

”Haaahh…?!”

Kalau adegan ini ada di film kartun, mungkin yang ditampilkan adalah gambar tokoh yang jatuh terjengkang dan tubuhnya terbalik; kepala ada di bawah dan kaki ada di atas; dan diiringi dengan bunyi ”doeenngg..!

”Mahal sekali…”

”Dan kau jangan bertanya berapa harga iga bakar itu. Dua puluh lima ribu!”

Lagi-lagi aku mengalami adegan seperti yang ada di film kartun. Kali ini lain. Tiba-tiba saja aku berkeringat sebesar gaban di dahiku. Dan jangan lupa, ada bunyi ”doeenngg..! Kali ini suaranya lebih keras.

+ + +

”Sudah yuk, pulang.”

Setelah meminta bill kepada petugas, engkau membayarnya. Kali ini dengan muka makin masam. Hampir tak ada lagi senyummu.

”Kenapa?” tanyaku sambil berjalan menuju tempat parkir

”Mahal banggetz. Semuanya habis dua puluh lima ribu. Cuma makan dan minum.satu porsi lagi.”

“Ya, sudahlah. Yang penting malam ini kamu tak punya alasan tak bisa tidur karena kelaparan.”

”Justru aku makin tak bisa tidur mengenang uang dua puluh lima ribu yang melayang bersama sayap ayam bakar itu.”

”Sudah jangan mengeluh.” kataku sambil memacu sepeda motor. Mengantarmu pulang. Sudah malam.

Sebenarnya aku juga kepikiran sekaligus merasa geli sendiri sepanjang perjalanan pulang. Aku ingat sebuah slogan iklan begini: Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu pilihan. Soal lapar dan tidak lapar itu pasti kita alami, tetapi soal menentukan tempat makan itu sebuah pilihan. Mau di warung tegal atau di restoran. Semua ditentukan oleh kantong kita; entah itu kantong samping kanan-kiri atau pun kantong belakang; kantong jaket, kantong kemeja, kantong…(?!).