Beberapa waktu lalu, seorang kawan saya mendapat undangan untuk datang ke kampus Ilmu Budaya Gadjah Mada. Undangan itu baginya seperti menapaki kembali masa lalu saat masih rajin kuliah di fakultas ini. Tentu saja ia lulus jauh sebelum saya :)) Ilmu Budaya mengundangnya ke dalam acara perkuliahan yang kalau tidak salah membahas pendidikan multikulturalisme (semoga saya benar).

Dalam perkuliahan itu, ia sekaligus menayangkan sebuah film mengenai multikulturalisme berjudul Cheng-Cheng Po. Seusai para mahasiswa menonton film itu, dosen membuka kesempatan untuk tanya jawab. Menariknya, kata teman saya, mayoritas mahasiswa peserta mata kuliah itu mengatakan kekagetan, keheranan, dan kekaguman, sekaligus harapan pada film tersebut.

Mereka kaget karena di zaman film hantu yang sedang marak, masih ada film yang mengajarkan bahwa perbedaan bukan merupakan sesuatu yang menakutkan. Mereka herang karena di saat semua film membahas percintaan muda mudi, masih ada film yang menceritakan kesederhanaan cinta (baca: kasih). Mereka kagum karena di saat semua sinetron di teve menggembar-gemborkan sikap materialistis-borjuis, film ini mengajarkan pentingnya solidaritas dalam segala bentuk keterbatasan (status ekonomi, istiadat, suku, agama, dan status sosial). Mereka memiliki harapan bahwa film/sinetron Indonesia tidak hanya membahas soal iri hati, kemarahan, permusuhan, dan balas dendam.

Hal itu pula yang justru balik membuat heran kawan saya. Ia heran melihat para mahasiswa yang menganggap Cheng-Cheng Po adalah film luar biasa—sementara ia menganggap itu film yang biasa saja. Tak istimewa. Tak perlu dikagumi sedemikian rupa.

Yah, mungkin ini memang bukan salah para mahasiswa yang menganggap tak ada lagi film yang bagus di negeri ini. Wajar, karena setiap hari, kita selalu dijejali dengan sinetron cinta-cintaan, benci-bencian, kaya-kayaan, film hantu-hantuan, dan horor-hororan (nyatanya tak seram-seram amat). Semoga para produser dan sutradara Indonesia tak kekurangan bahan dalam membuat film-film yang berkualitas. Tak harus idealis, tapi juga jangan membabi buta mengikuti selera pasar.