Indonesia krisis pangan. Sawah-sawah tergenang banjir, sehingga petani mengalami gagal panen. Hujan yang turun terus-menerus membuat tanah longsor menimpa kebun buah dan sayuran di lereng-lereng gunung—juga menelan korban jiwa yang tak sedikit. Belum lagi hama tanaman yang menyerang.

Kita patut prihatin merasakan semua itu. Alam masih menghasilkan, tapi seolah-olah tak pernah menghasilkan yang baik. Hanya yang buruk; yang suram; yang duka; yang miskin. Warna-warna hijau hamparan padi muda seakan sudah lenyap. Gelaran permadani kuning padi menua jarang tampak mata. Warna langit biru sudah sirna dari cakrawala. Sungai yang jernih telah keruh. Apa lagi? Masihkah kita akrab dengan alam? Tahukah kita teknik mencangkul, ani-ani, dan membajak? Jangan-jangan kita lebih pontang-panting tak keruan ketika tahu bahwa kurs rupiah anjlok, bahwa koneksi internet sedang down, bahwa celana yang kita kenakan tak sesuai tren, bahwa satu episode sinetron terlewat ditonton—sementara itu petani terancam gagal panen, harga beli gabah merosot, pupuk mahal, dan musim tak pernah pasti.

Masihkah kita ingat pada akhir tahun 80-an hingga awal tahun 90-an ada lagu tentang petani. Bagian paling menyentuh dari syairnya adalah ”sawah kering tak dirasa, hujan rintik tak mengapa, tugas Anda (petani) sungguh mulia. Trimakasih bapak tani, trimakasih ibu tani, tugas Anda (petani) sungguh mulia.

Sebuah artikel di KOMPAS tulisan Andreas Maryono menggambarkannya dengan jelas: keindahan sawah dan keriangan petani tinggal kenangan. Ungkapan-ungkapan sentimentil tentang keelokan kampung halaman dengan sawah yang membentang, gunung yang membiru, dan air yang jernih adalah cerita masa lalu. Pemandangan yang indah telah berganti dengan penderitaan petani (KOMPAS, 19 April 2008).

Artikel tersebut ingin mengungkapkan kentalnya tema-tema petani, sawah, dan keadaan alam ibu pertiwi yang permai pada periode mula-mula kesusastraan Indonesia. STA dalm Majalah Poedjangga Baroe, 7 Januari 1935, menyebutkan, dalam seni segala masa amat pentinglah perhoeboengan antara manoesia dengan alam sekelilingnja. Sebabnya lain dari pada soember inspirasi, alam jang pelbagai ragam itoe bagi ahli seni adalah teladan jang tiada habis-habisnya. Karya-karya mengenai realitas alam nan permai itu antara lain Amanat (Zain Saidi), Fadjar ( S Yudho), Sawah dan Menumbuk Padi (Sanusi Pane), hingga Priangan si Jelita (Ramadhan KH), dan sebagainya. Saya harap contoh-contoh tersebut cukup untuk menggambarkan situasi yang ada pada zamannya.
Tertarik dengan artikel tersebut, saya lantas bertanya kepada kawan kerja saya. Pertama saya tanya, ”Apakah dia punya ponakan yang masih kanak-kanak?”
Dia bilang ”Punya.”
Lalu saya tanya lagi, ”Berapa umurnya? Masih Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), atau…?”
”Ada yang TK ada yang SD,” jawabnya.
”Nah, kalau pas ada pelajaran menggambar di sekolah, apa yang sering digambar?”
”Biasanya sih benda-benda mati, kayak sepeda, pesawat…”
”Benda hidup, kayak binatang, gitu?”
”Wah, jarang.”
”Berarti tak ada lagi yang menggambar seperti kita dulu, ya?! Gunung, sawah, matahari, awan, burung, petani dan rumahnya.”

Lalu saya juga mencoba mengamati gambar-gambar yang dibuat adik saya yang masih kelas enam. Ternyata benar juga. Tak ada lagi lukisan alam. Tak ada lagi gambar panorama alam. Yang ada cuma tokoh film kartun kesukaannya.

Dan memang kenyataan yang ada berkata demikian. Pandanglah sekeliling. Pemandangan yang indah telah berganti; diganti dengan kawasan real estat yang menggusur persawahan; diganti dengan gedung kokoh; diganti dengan hiasan lampu malam. Tapi tak ada yang memikirkan penderitaan yang dialami petani. Ataukah, sudah capek-capek menulis artikel ini—dengan harapan bisa sedikit membela kepentingan petani, justru tak ada lagi petani di zaman ini. Si muda telah berpindah ke kota. Si muda lupa pada bajak. Si muda lupa pada panen raya.

Tapi, semoga masih ada pemandangan hijau di halaman rumahmu, Kawan…Supaya anak cucumu sempat melukis alam dengan lebatnya pepohonan, meski tanpa petani, bajak, dan padi berlatar pegunungan permai.