Tag

, ,

Ia tak lagi istimewa,
meski ia tetap menarik. Tak istimewa karena orang-orang disekitarnya adalah orang-orang yang pandai melukis; Mereka adalah orang-orang yang pandai bercerita; Mereka mampu melipat kertas dengan lebih rapih. Namun, ia tetap menawan…

Ya, dulu ia istimewa–sangat istimewa. Ibarat nasi goreng, ia tak hanya pake telur dan daging ayam, tapi juga pakai rempelo ati. Dan sekarang, orang-orang itu datang–dengan menu nasi goreng daging sapi; pun nasi goreng kambing.

Dulu ia istimewa. Dengan lembut ia menggoreskan pensil dan kuas ke atas kertas; melukis si cantik pujaannya. Hampir setiap hari ia melukis. Pun dulu ia suka bercerita; bukan dengan ucapan yang lantang pada forum debat ato apa pun, tapi dengan puisi. Puisi yang wajar, apa adanya. Dan, kita biasa menikmatinya bersama-sama. Ia juga suka melipat kertas–origami. Ia suka kapal; membentuk kertas menjadi bermacam-macam bentuk kapal.

Sejak ia tak lagi minum kopi, ia jadi sering mengantuk.
Dan, mengantuk berarti tak ada lukisan yang menceritakan malam; bulan, bintang, embun yang mulai menitik membasahi pikirannya. Tak ada suara angin masuk melalui jendela yang terbuka.
Mengantuk membuat penanya rebah–tak ada yang ia tulis; tak ada yang meledak-ledak di penjuru otaknya; tak ada waktu yang mencegah mimpinya.
Mengantuk juga membuat kapal-kapal kertas itu karam; membuat kapal-kapal itu berlayar tanpa kompas.

Ya, sejak ia tak lagi minum kopi. Tapi untunglah, ia masih suka makan permen kopi.

“Minum kopi membuat aku mual,” katanya. Dulu, segelas kopi menjaganya tetap hangat, meski tak mencegahnya untuk tidur atau pun terjaga. Tapi, kopi membuat ia leluasa membayangkan apa pun di luar mimpi; melebihi mimpi. Ia ingin berlayar dengan kapal yang ia beri nama dari salah satu judul puisinya dan seluruh badan kapal ia lukis dengan warna kesukaannya.

Ah, ia tak lagi istimewa; sebab ia tak suka lagi pada rasa kopi; selain permen kopi. Sebab ia masih mengantuk.
Orang-orang disekitarnya sekarang mulai suka kopi. Mungkin.