Rute Jogja-Pacitan merupakan rute terpanjang kedua yang pernah aku tempuh dengan berkendara sepeda motor. Rute terpanjang pertama adalah Jogja-Tanjung Mas Semarang pergi pulang dalam tempo 6,5 jam nonstop (sekitar 4 tahun lalu). Jogja-Pacitan juga membuat pandanganku pada motor matik berubah: Kuat dikendarai jarak jauh (meski yang runyam itu fisik pengendaranya) dan tangguh menghadapi medan berliku dan bukit naik turun. Kesimpulannya: Matik oke!

Tapi itu bukan hal luar biasa dibandingkan dengan pengamatan sekilas pada bukit-bukit kapur (karst) di jajaran pegunungan sewu. Hancur. Eksploitasi (penambangan) batu kapur membuat beberapa gunung (baca: bukit) menjadi lebih pas di sebut gunung tugel (gunung patah) karena tinggal separo saja. Mesin-mesin berat telah mengeruk bebatuan kapur. Gunung yang kehijauan tepat pada musim penghujan ini menjadi hamparan putih; berdebu.

Sebuah kawasan tandus di Pegunungan Seribu–inilah jajaran pegunungan yang terangkai sampai di kampung halamanku, kini makin gersang.

Sebagai orang awam, aku cuma bisa berkata: Hentikan! Kalian menghancurkan kampung halamanku. Kalian mengeruk secuil keindahan dari rumahku.
Namun, aku juga tak bisa menyalahkan orang-orang itu (beberapa penambang melakukannya secara tradisional) karena mereka melakukannya demi mencari tambahan penghasilan.

Lalu bagaimana?