Tag

Anak-anak berlarian keluar dari kelasnya masing-masing. Ada yang langsung menjumpai ibu atau bapaknya atau pengasuhnya. Ada yang berlarian kesana kemari. Ada yang berjalan keluar kelas sambil bengong karena belum dijemput. Semua tak ada yang tak lucu. Menikmati kanak-kanak dengan caranya sendiri. Sebelum mereka sampai dirumah dan tak ada kesempatan berinteraksi; sibuk dengan game komputer atau playstation; atau les ini les itu.

Beberapa guru, tepatnya tiga orang guru, tampak berdiri di muka sebuah kelas. Mendiskusikan sesuatu. Ibu guru Arlina salah satunya. Oo, mereka sedang mencari kendaraan untuk membesuk seorang anak yang tengah sakit: Nando. Hanya ada satu sepeda motor, dan mereka sedang mengusahakan meminjam sepeda motor milik sekolah.

***

Bel baru saja berbunyi. Suara bel ini lain; bukan teeettttt atau kriiing atau teng…teng…! Suara melodi yang tak asing: Kami Puji dengan Riang! dengan aransemen yang menarik khas anak-anak. Bel terakhir hari itu, ajakan agar anak-anak masuk kelas dan berdoa, kemudian pulang.

Anak-anak berebutan masuk kelas, mencari tempat duduknya masing-masing. Setiap hari posisi tempat duduk di setiap kelas dirotasi biar anak-anak tidak jenuh. Dan, kali ini Nando mendapat giliran duduk pada baris terdepan. Teman di sebelahnya mendapat giliran berdoa penutup. Anak-anak berdiri.

“… terima kasih, Yesus. Aaaaamin!”

Begitu selesai kata “amin”, anak-anak langsung menghambur keluar. Nando tidak. Ia masih berdiri. Diam. Tatapan matanya lurus ke depan. Tapi kosong. Ibu Arlina mendekat dan langsung mendekapnya. Nando lunglai. Bibirnya membiru.

“Nando…!!”

Diam.
Masih dengan mata terbuka dan bibir membiru.
Ia pun panik.

***

Ternyata sepeda motor milik sekolah sedang dipakai petugas TU untuk mengantar surat ke Kantor Pos Besar. Artinya, hanya ada satu sepeda motor. Masalahnya, rumah Nando cukup jauh dan tidak ada akses kendaraan umum.

Jadilah dua ibu guru yang lain pergi membesuk. Ibu Arlina pulang dengan lunglai. Menyisipkan sebuah doa dalam setiap langkah. Semoga hari ini Nando sehat dan esok sekolah lagi.

Bukankah anak-anak ini telah menyemangati hidupnya. Bukankah celoteh anak-anak ini yang mengisi mimpinya. Kini pun nanti.