Tag

,

Langit cerah seperti malam ini tentu membuat para pengusaha di Sekaten merasa hepi. Maklum, hujan membuat tanah becek, dagangan runyam, pakaian-pakaian yang dipajang jadi lembab, dan sepi pembeli.
Ya, sekaten tetap saja eksotik di mataku. Sejak aku masih kanak-kanak hingga sekarang tetap menarik.

di sini semangat kami tumpah ruah
menepis lelah
membebaskan senyum anak-anak kami
merekatkan ikatan kami
menyalakan cita-cita kami
sekadar menikmati
apa pun yang tak pernah terbeli dari upah kami

***

Langit cerah, tak ada salahnya membeli es thong-thong alias es krim ala gerobak dorong.
Seribu rupiah, lumayan…

“Rasa apa, Pak?”
“Duren, Mas.”
“Waduh…”,kataku dalam hati. Aku tak suka Durian. Sama sekali!

Tapi sudah telanjur dipesan, apa boleh buat. Itung-itung jadi pelaris jualan si Bapak.
Icip-icip sedikit.
Agak banyak.
Tetap tidak suka.
Sudahlah, buang saja.
***Maaf, Pak. Bukannya tidak menghargai, tapi saya memang tak suka rasa durian. Hwekk.

Nah, sekarang ada masalah lain yang muncul!
Keliling sini sana, tak ada tempat sampah sama sekali.
Es krim di tangan ternyata lebih cepat mencair, sementara aku belum menemukan tempat sampah atau apa pun semacamnya.
Dasar!
Salah siapa?

Dan, sekaligus mengaku dosa, akhirnya es krim kubuang ke pinggiran kios pedagang. Maaf.
Saya buang sampah sembarangan!
Habis, tak ada tempat sampah di Sekaten…