Tag

, , , , , ,

Suatu ketika di sela-sela kesibukan pelayanannya, Paulus diwawancarai oleh media masa terbesar di muka bumi. Ia berkisah bahwa ada banyak alasan yang membuat dia bermegah alias berbangga diri, terlebih lagi saat seseorang berada dalam masa jaya, masa senang, mencapai prestasi luar biasa. Mungkin bukan dirinya sendiri saja yang bermegah, tetapi siapa saja yang ada di sekelilingnya, yang melihat hidupnya, pun akan turut merasa bangga.

Empat belas tahun sebelumnya, Paulus pernah berjumpa dengan seorang pengikut Kristus. Suatu saat, ia melihat orang itu diangkat ke tempat yang tertinggi di Surga. Paulus tidak tau apakah tubuhnya benar-benar terangkat atau itu hanya merupakan penglihatan. “Hanya Allah yang tahu,” katanya. Begitu penting cerita ini, hingga ia mengulanginya hingga dua kali. Hal yang sama ia ungkapkan: “Hanya Allah saja yang tahu.” Dan, ia pun dengan semangat berkisah tentang apa yang ia lihat; hal-hal yang spektakuler saat melihat orang itu berada di Firdaus.

Dan, Paulus berbangga … bermegah atas hal-hal yang lihat itu; atas apa pun yang dialami orang itu.

Namun, keadaan itu bertolak belakang dengan apa yang dialami olehnya. Ia sakit. Ia lemah. Bahkan tiga kali ia memohon kepada Tuhan untuk mengangkat sakit yang ia derita. Tetapi…

“Aku mengasihi engkau dan itu sudah cukup untukmu; sebab kuasa-Ku justru paling kuat kalau kau dalam keadaan lemah.” Inilah jawaban yang Tuhan berikan. Berat untuk diterima. Ia bisa saja memegahkan semua karya pelayanan yang sudah ia buat bagi Tuhan. Tapi ia tak mau. Tak mau itu hanya akan berakhir menjadi bualan di mata orang lain. Ia juga tak mau disangka hebat karena segala hal yang telah ia lihat; yang luar biasa itu.

“Itu sebabnya saya lebih senang membanggakan kelemahan-kelemahan saya, sebab apabila saya lemah, maka justru pada waktu itulah saya merasakan Kristus melindungi saya dengan kekuatan-Nya. Jadi saya gembira dengan kelemahan-kelemahan saya … Sebab kalau saya lemah, maka pada waktu itulah justru saya kuat,” katanya dengan penuh semangat.

Dan, saya pun belajar dari Paulus: Tuhan saja cukup baginya!

Di lain tempat dan waktu, ada seorang wanita yang sudah renta. Tubuhnya rapuh. Hanya bisa terbaring di kamar. Ia mengenang masa-masa ketika ia muda. Masa-masa yang sebenarnya juga tak enak untuk dikenang. Masa-masa yang tak mudah. Masa-masa saat berada di Kamp Nazi.

Namun, masa itu menjadi masa yang membentuk dirinya; hidupnya; pengenalan pada Tuhannya.

Selepas pengalaman yang berat di kamp Nazi, ia dapat kembali hidup normal, meski tanpa orang-orang yang ia kasihi; tanpa keluarganya. Selepas itu pula, ia punya banyak kesempatan untuk melayani Tuhan yang sudah membentuk, melindungi, dan melepaskannya dari kesengsaraannya. Hingga datanglah penyakit itu lebih dari lima tahun yang lalu.

Ketika itu, sudah banyak orang yang berdoa bagi kesembuhannya. Sudah banyak dokter yang merawat dan memberi obat. Tak juga sembuh. Tak ada hasil. Kemana Tuhan yang kukenal…*Tidak, ia tidak mengatakan seperti itu. Ia tetap percaya pada Tuhannya–Tuhan yang sudah membentuk, melindungi, dan melepaskannya dari kesengsaraannya.*

Dan kali ini pun ia percaya, Tuhan akan melepaskannya. Mungkin dengan jutaan cara yang lain.

Suatu ketika, malaikat datang menjumpainya. “Engkau sudah benyak melakukan pelayanan yang memebrkati banyak orang. Dan, Tuhan sangat mengasihimu, bagaimana pun keadaanmu. Kini ada dua pilihan bagimu: Engkau kembali pulang ke rumah Bapa, meninggalkan segala rasa sakit yang selama ini kau rasakan, menikmati sukacita bersama Tuhan di Rumah-Nya. Atau, engkau akan tetap di dunia ini sepanjang lima tahun ke depan tetapi tetap dengan sakit yang rasanya hanya akan semakin buruk dari hari ke hari. Manakah yang akan engkau pilih?

“Mana yang paling memuliakan Tuhan, aku ikut!”

“Kalau begitu, engkau akan tetap ada di dunia ini dengan keadaan tubuh yang sakit, lemah, dan tanpa daya. Tetapi dalam masa sakit itu, hidupnya akan memberkati banyak orang. Menginspirasi banyak orang. menguatkan banyak orang,” jawab malaikat itu.

Itu peristiwa lima tahun yang lalu.

Tapi yang tak berubah adalah kondisi tubuhnya. Ia masih sakit dan tengah berada dalam masa terburuk. Suatu hari ia melihat lagi melaikat yang lebih dari lima tahun lalu menampakkan diri kepadanya. Dan, malaikat itu berkata kepadanya, “Lima tahun sudah berlalu, dan engkau benar-benar mampu melewati masa-masa itu dengan tetap memandang Tuhan. Engkau lebih suka mengambil pilihan yang memuliakan Tuhan. Dan, Tuhan memang dimuliakan di dalam dan melalui dirimu. Kini tiba waktunya untuk engkau pulang. Tugasmu sudah selesai…!”

Corrie Ten Boom meninggal dunia dengan meniggalkan kisah hidup yang menggetarkan: Tuhan tetap baik meski tubuh tak tuga membaik.

Dan, kemarin… Ibu Suryanti–Ibu yang telah begitu lama berjuang melawan kanker, telah kembali ke Rumah Bapa.
Dalam damai.
Dalam pengharapan.
Dan, saya belajar dari beliau, Pahlawan Iman yang tak jauh dari hidup saya, yang tetap meyakini bahwa Tuhan saja cukup baginya, sebab Tuhan itu tetap baik, dalam sehatku maupun sakitku!
Amin.