Tag

, , , , ,

Sebelumnya, saya bertanya pada seorang kawan penerjemah, makna kata “default”. Maklum takut salah; demi memastikan artinya. Dan, menurut kamusnya kawan saya ini, salah satu makna “default”, ialah “a pre-selected option adopted by a computer program or other mechanism when no alternative is specified”. Artinya kira-kira (menurut saya—ndak boleh diprotes) pilihan otomatis. Nah, ini berarti cocok dengan yang mau saya tulis. Lha tiwas nggaya-nggaya mau nulis plus pake ajak-ajak kata bahasa inggrish, eh malah ndak nyambung…
Lanjut.

Kita kerap berpendapat bahwa orang-orang seperti pendeta, pastor, romo, penginjil, dan semacamnya itu adalah orang-orang dengan panggilan khusus dari Tuhan. Maksud saya, mereka tadinya orang-orang biasa, menjalani pekerjaan seperti biasa, menjalani hidup seperti biasa, tiba-tiba mak bedunduk (jangan jari istilah ini di kamus…), mereka mendapat wahyu, ilham, atau panggilan untuk menjadi hamba Tuhan. Mereka lantas “melepaskan”, “meninggalkan” pekerjaan dan hidup yang mereka jalani. Yang tadinya kerja di bank, sekarang jadi pendeta. Yang tadinya sekolah arsitektur, sekarang masuk seminari. Yang tadinya petugas pemadam kebakaran, sekarang jadi penginjil. Dan sebagainya. Pandangan umum mengatakan: kerja di bank, profesi arsitek, pemadam kebakaran itu bukan pekerjaan yang dilandasi panggilan Tuhan. Sebaliknya, pendeta, pastor, dan penginjil itu pekerjaan (eits, maksud saya pelayanan…) yang diambil karena Tuhan yang memanggil. Makanya, sebutannya: hamba Tuhan!

O ya…?!

****
Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan menciptakan kita serupa dengan gambar-Nya. Berarti, kita “mirip” dengan Allah. Maksudnya: pikiran kita, tindakan kita, omongan kita. Tentu saja orientasinya ke hal-hal yang mulia, rohani, bukan?
Nah, kalo sudah begitu, dari sononya kita ini makhluk dengan “nuansa” rohani (default rohani) dunk… Melayani Tuhan, punya pengetahuan yang benar dan utuh tentang Tuhan. Hamba Tuhan.
Sepakat…!
Lha….tapi manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Ini masalah yang buesaaarrrr (lagi-lagi, ini ndak ada di kamus). Tetapi, dari sononya, kita kan punya default rohani; punya ciri-ciri dan sifat ilahi—hanya sudah rusak sak…sak…!

Sekarang kembali ke soal pekerjaan (pelayanan).
Semula kita pikir bahwa pendeta, pastor, penginjil, dan sebangsanya itu adalah tugas panggilan khusus. Beda dengan pekerjaan sehari-hari seperti contoh yang saya sebutkan di atas. Jadi, kesan yang muncul:
“wuiihhh, hebat si ‘A’ jadi pendeta”;
“ciiieee, si ‘B’ jadi pastor, pasti dia bener-bener orang yang mau hidup suci untuk Tuhan”;
“wow, si ‘C’ jadi penginjil, pasti semua yang dimiliki dia tinggalin untuk panggilannya ini”;
dan seterusnya….

Pola pikirnya kita balik.

Karena kita punya “nuansa” rohani sebagai sesuatu yang sudah de-default, berarti kita sebenarnya diciptakan sebagai “pendeta”, “pastor”, “penginjil”, dan sebagainya untuk lingkungan kita masing-masing. Nah, kalau kita “dipanggil” menjadi karyawan bank, arsitek, pemadam kebakaran, justru itulah panggilan khusus kita. Kita yang sudah “asin” dari sononya, ditaburkan ke tempat-tempat yang masih hambar, biar suasana dunia jadi gurih, nikmat.

Demikian kira-kira…
Semoga hal ini bisa membuat kita merenung. Bahwa pekerjaan kita ini panggilan khusus dari Tuhan. Bukan hal main-main. Bahwa kita tetap bisa melayani Tuhan tidak hanya ketika menjadi pendeta, pastor, penginjil.
Sekaligus kita memberi rasa hormat yang buesaaarrrr bagi para pembina rohani kita, pun kita mendukung tugas mereka.
Tuhan memberkati.