Tag

Gerimis suatu hari.
Puluhan anak seragam putih abu-abu menghambur keluar kelas. Keluar dari kejenuhan pelajaran sepanjang pagi hingga siang.
Seorang kawan yang memang gemar hal-hal yang berbau teknologi selalu menyempatkan diri untuk pergi ke warnung internet (warnet) di belakang sekolah. Sudah tiga bulanan warnet itu buka, tapi aku sama sekali tak tahu kegiatan apa yang dilakukan di dalam warnet.

“Mau ngerjain tugas? Kalo enggak, ikut, yuk…!”
“Ke mana?” aku bertanya pada kawan ini.
“Ke warnet belakang sekolah.”
“Ngapain?”
“Main game, lah. Atau buka-buka email.”
“Males aku kalau main game. Tapi, email itu apa, ya?!”
“Email itu surat, tapi ngirimnya lewat internet.”
“O, ya?! Mau aku, ajari bikinnya, dong. Biar enggak dikira buta sama teknologi…”
“Boleh….”

Jadilah aku ke warnet.
Masih gerimis.

Sampai diwarnet dengan kepala agak basah, kami masuk ke dalam satu bilik. RUang kecil, tak lebih dari 1,5mx1,5m luasnya. Ada dua kursi.

“Pertama, ketik alamat situsnya,” katanya.
“Caranya?”
“Nih, ketik di sini,” katanya sambil menunjuk pada posisi kursor di bagian atas.
“Wah, tumben koneksinya lambat sekali. Apa mungkin karena cuaca baru mendung gerimis, ya?!” katanya.
“Oo, ada pengaruhnya, ya…?”
“Ada lah…”
Aku hanya manggut-manggut saja, sambil sesekali mengetik dan menggerak-gerakkan mouse, tiap kali halaman baru terbuka di layar komputer.
“Nah, sampai di sini, ketik nama alamat email yang kamu pengen?”
“Maksudnya?”
“Ya, misalnya kami mau pakai nama apa, Paijo, atau siapa. Ini jadi semacam alamat suratmu. Kalau biasanya alamat ditujukan ke nama jalan plus nomor rumah, kalau di email, alamatnya itu biasanya nama yang punya email. Tapi terserah, mau pakai namamu atau istilah tertentu. Terserah…Nah, setiap orang yang mau ngirimin kamu surat, dia akan ketik namamu itu di bagian ‘kepada’ ini.”

Berpikir-pikir sebentar.
“Ketemu!”
“Oke, sekarang ketikkan di situ…,” sambil menunjuk ke layar komputer.
“Lalu sekarang ketik password-mu.”
“Apa lagi, itu?”
“Password itu gampangannya kunci untuk masuk ke kotak suratmu. Dan, cuma kamu yang tahu. Jangan pernah dikasih tahu ke orang lain. Rahasia…”
“Oooo.” jawabku melongo.

“Selesai…!” katanya
“Wah, akhirnya aku punya email. Terus, cara makainya, gimana?”
“Kamu ada teman, enggak, yang juga sudah punya email?”
“Waduh, enggak tahu aku…”
“Kalau gitu, coba aja mulai ketik surat. Terserah isinya apa. Lalu kirim ke alamatku.”
“Sudah.”
“Nah, sekarang kamu musti sign out, lalu aku buka emailku.”
Mununggu beberapa saat, karena koneksi internet-nya sangat lambat, kata temanku tadi.
“Nah, suratmu sudah masuk ke kotak suratku. Ini isi surat yang kamu ketikkan kan?!”
“yap, betul…”
“Nah, kalau ingin membalas surat, tekan tombol ini. Lalu ketik surat, seperti tadi. Sama. Aku kirim balik, ya…. Nanti kamu buka di emailmu.”
“Oke…,” jawabku.
“Eits, udah masuk kelas neh…. Ntar siang lagi aja ke warnetnya. Atau mau belajar sendiri?”
“Gampanglah nanti. Masih banyak bingung, sih. Enggak dong sama sekali.”
“Lama-lama terbiasa, kog.”

Pulanglah kami ke sekolah. Sudah cerah langitnya. Wah mestinya ini waktu yang pas untuk berinternet. Gangguan sinyal pasti udah enggak ada lagi, pikirku.
Kata kawanku tadi sih…. Benar tidaknya, entahlah, pikirku waktu itu yang baru pertama kali bersentuhan dengan internet. Yang penting, “Aku sudah punya email…!”