Tag

, ,

Diam-diam aku meneteskan air mata tatkala kau mendekapnya. Cengeng, memang. Lalu aku memilih pergi. Aku ingat, kita pernah bercakap soal dirinya. Tentang suara-suara di sekitarnya yang tak menaruh hati kepadanya. Tentang orang yang lalu lalang tanpa menggubris. Tentang dunia yang bising dan enggan mengurusnya. Namun, engkau mengulurkan tangan. “Kemari, Sayang …,” sembari merentangkan tangan lebar-lebar.

Diam-diam aku menangis, tatkala ia menyambut uluran tanganmu; meringkuk dalam lingkar dekapanmu dan hanyut dalam lengkung senyummu. Lalu aku memilih pergi. Mula-mula ia yang datang. memegang tanganmu, dan menyalam, dan mencium. Kemudian menjauh. Tak lama lalu mendekat; duduk sembari meracau tak jelas, seperti biasanya. Namun, tiba-tiba, dengan malu-malu dan langkah gontai, ia mendekatimu. Entah seperti apa rentang tanganmu itu dipemandangannya; entah seperti apa ia memaknai senyummu. Seperti malaikat, barangkali. Ah, mungkinkah ia sudah tau apa-siapa itu malaikat?! Dan, ia rubuh di pelukanmu ….

Diam-diam, aku memperhatikan kedua matamu; berkaca-kaca. Dan aku memilih pergi. Pemandangan dari sudut pandangmu tentu lebih mengharukan; luapan perasaan dari hatimu yang tertimpa juta cintanya pastilah tak tuntas kau lukis. Duh, aku melihat Si Samaria yang baik hati.

*TPA Bethesda, suatu siang.