Bletaaakkk …
Aku langsung mengerem sepeda motor; rasanya ada yang jatuh. Cukup sulit melongok ke bawah; ada Olan di gendongan depan.
“Pak, tempat makannya jatuh …” teriak perempuan muda sembari terus berlalu. Tak sempat kujawab sebab perhatian langsung beralih ke sesuatu yang jatuh dari sepeda motor itu–yang ternyata benar, tempat makan Olan (lengkap dengan nasi dan lauk.
Memastikan sepeda motor terparkir aman, aku bergegas mengambil tempat makan itu, ketika kemudian ….

***

“Sudah, Mas, di sini saja. Biar saya yang ambil.”
“Terima …”
Ia sudah berlari tergopoh-gopoh–sekitar 20 meter ke belakang.
“Wah, plastiknya koyak, Mas. Sebentar, saya carikan gantinya.”
Ia bergegas ke warung teh, meminta tas kresek kepada si penjual.
“Sip, Mas. Sudah aman. Enggak koyak lagi, plastiknya baru.
“Terima kas ….”
“Wah, saya cantolin sekalian, Mas.” Beberapa detik mengutak-ngatik simpul dan … “Sip, Mas. Di jamin, aman sampai tujuan.”
“Terima kasih banyak sudah dibantu, Pak.”
Akhirnya aku bisa menyelesaikan kalimat ucapan terima kasih.

***
Kejadian yang teramat singkat untuk sekadar bertanya nama. Mungkin karena melihat “kerepotanku” dengan bayi di gendongan, rasa kemanusiaan “sesamaku manusia” ini tersalur dalam tindakan. Rompinya oranye. Usia 40-an. Juru parkir.
Terima kasih. “Sentuhanmu” menjadi guyuran air di siang yang terik. Terima kasih sudah mengiriskan kasih dan membagikannya denganku.

 

@vagrannt

04062013