Tag

, , , ,

[notes ini adalah rangkaian kicauan keren–tsaahh, kultwit maksudnyee–di @ininandar. Sila simak, semoga menyegarkan Anda.]

1. Bung Karno suatu ketika berpekik: “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit … Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

2. Entah kapan kali pertama kalimat ini ia pekikkan. Namun, Sang Proklamator tampaknya sadar benar bahwa rasa percaya diri bangsa ini perlu digemburkan. Sekian ratus tahun bangsa ini dicekam mimpi buruk.

3. Pajak tinggi; sumber daya alam dan manusia diisap kolonialisme; melarat; dibodohi; diadu domba; dipecah belah; mengerang kesakitan.

4. Di mata Soekarno, Indonesia, yang kenyang dengan penjajahan, mesti punya dan mau menatap masa depan. Anak-anak mudanya mesti punya harapan; mesti punya impian; mesti punya cita-cita.

5. Bagi Bung Karno, tidak ada cita-cita semenjana; bagi diri sendiri pun bagi bangsa ini. Yang ada adalah cita-cita yang setinggi mungkin.

6. Zaman berganti. Lahirlah Susan—tepatnya, terciptalah boneka Susan. Di tangan Rian Enes, boneka Susan fasih bernyanyi; bersoal jawab dengan generasinya.

7. Menariknya, boneka ini pun “punya” cita-cita:
Susan susan susan
Besok gede mau jadi apa
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter

8. Susan susan susan
Cita-citamu apa lagi
Aku kepingin jujur
Biar jadi insinyur
dst.

9. Kita bisa saja tidak menganggap lirik lagu tersebut terlalu serius. Namanya juga lagu kanak-kanak. Namun, ditengah dahaga hadirnya lagu kanak2, pesannya sulit kita abaikan begitu saja.

10. Jika dibandingkan dengan zaman Bung Karno, semangat zaman yang melahirkan lagu ini tentu berbeda.

11. Zaman di mana rasanya keadaan baik2 saja. Anak2 bisa berangan-angan bebas: ingin jadi apa aku saat besar nanti?

12. Dengan semangat menggebu, anak-anak—ketika ditanya mengenai cita-citanya—akan menjawab ingin jadi dokter; insinyur; bahkan presiden. [Apa?! Susan ingin jadi presiden? Subversif ini!] :))

13. Alasannya bisa bermacam-macam: supaya bisa suntik orang sehingga obatnya laku; supaya bisa menjadi konglomerat.

14. Celotehan tentang cita-cita masa kanak-kanak yang dinyanyikan boneka Susan ini terasa nyaman di telinga. Memang demikianlah semestinya anak-anak menggumuli dunianya; memimpikan masa depannya.

15. Pada saat itu, apa yang dicita-citakan Susan masih terasa nyaman kedengarannya. Semua merujuk pada profesi, yang masing2 tentu mulia pada awalnya.

16. Para orangtua, kala itu mungkin belum merasakan impitan kebutuhan yang mencekat seperti sekarang.

17. Biaya kesehatan, pendidikan, dan sebagainya masih dirasa wajar. Nila rupiah juga dibaris aman. Ekonomi dirasakan sudah merata.

18. Bagaimana cita-cita anak zaman ini? Bagaimana lagu kanak-kanak hari-hari ini? Oh, emangnya masih ada lagu kanak-kanak? Ada!

19. Saya teringat sosok Tegar. Tegar, si penyanyi cilik, masih kategori kanak-kanak, bukan? Menurut saya sih masih. Lagunya, “Aku yang dulu”, pun enak didengar dan didaraskan.

20. Penyanyi cilik yang fenomenal dan bercengkok emas. Generasi Reformasi. Generasi milenium ketiga. Dengarlah bagaimana ia bertutur perih mengenai bagaimana ia dulu dan sekarang.

21. Pahitnya hidup ia rasakan; ia ditendang dan kini disayang. Dulu ia tak punya biaya sekolah; dulu ia pengamen yang bermodal uang receh. Impitan hidup begitu membelenggu.

22. Dan, dengarlah juga … ia punya cita-cita. Simak lirik lagunya. “Cita-citaku menjadi orang kaya …,” katanya.

23. Ya, menjadi orang kaya. Bukan dokter; bukan insinyur; bukan presiden. Menjadi orang kaya! Itu sudah. Telinga saya tidak salah dengar. Memang demikian.

24. Kemana cita-cita masa kanak-kanak yang romantis itu: menjadi dokter, insinyur, presiden, dan sebagainya? Telah sedemikian sulitkah kehidupan, sehingga kekayaan yang menjadi tujuan?

25. Tidak ada yang salah dengan nyanyian Tegar. Tak ada yang salah dengan bagaimana si pembuat lirik menuangkan idenya. Tidak ada yang salah juga dengan situasi zaman ini, barangkali.

26. Barangkali, sayalah yang salah. Silap menangkap gejala manusia dan lingkungan sekitar.

27. Bahwa anak-anak telah hilang di belantara kehidupan yang buas. Bahwa mereka dibiarkan sendiri berjalan di pematang harapan.

28. Bahwa anak-anak telah hilang di belantara kehidupan yang buas. Bahwa mereka dibiarkan sendiri berjalan di pematang harapan.

29. Boneka Susan memang tak pernah menggapai cita-citanya. Namun, siapa saja yang memperjuangkan cita-citanya, akan melihatnya bernyanyi di bintang.