kita adalah …

Tag

, , , , , ,

engkau dan aku
adalah kita yang bertekat
mengalahkan waktu
tak membiarkan takluk
pada debu-debu
nan membutakan perjalanan
pada pematang-pematang sempit
yang menjadikan kita perlahan

engkau dan aku
adalah kita yang bertekad
mengiringi waktu
menerima setiap helai rambut memutih
sebagai anugerah
untuk menyimak bagaimana Tuhan
melukis kisah
memasrah setiap lekuk keriput
sebagai karunia
untuk menyimak bagaimana Tuhan
memahat cerita

engkau dan aku
adalah kita yang bertekad
menunggu pagi dan senja
dalam timangan Tuhan
tanpa merasa lupa
kepada satu sama lain
yang menjadikan kita lengkap

 

141113

Si Jahat Menawarkan Isi Dunia di Ruang-ruang Pribadi!

“You’ve gone incognito. Pages you view in this window won’t appear in your browser history or search history, and they won’t leave other traces, like cookies, on your komputer after you closeall open incognito windows. Any files you download or bookmarks you create will be preserved, however.”

Sudah lama saya tergelitik dan gelisah dengan istilah “incognito browser” yang ada di mesin perambah–khususnya, di google chrome. Tak ingin gegabah, saya mencari beberapa sumber yang meneguhkan kegelisahan saya. Hasilnya?!

***

“Incognito browser” mungkin lebih enak dan gampang dicerna dg istilah “private browser”. Namanya private, berarti itu untuk “kalangan sendiri”, bukan?! Atau, kembali kepada kata /incognito/ itu, kita seolah-olah sedang menyamar tatkala sedang merambah dunia maya; siapa kita (berharap) tidak ketahuan.

Ya, memang demikian. Ketika kita memanfaatkan fasilitas ini, kita dapat “manfaat”:

  • Halaman web yang kita kunjungi tidak akan muncul di history browser.
  • Tidak akan ada jejak surfing kita di internet yang di safe di komputer.
  • Tidak akan ada cookies yang di simpan.
  • File yang kita download dan kita bookmark akan tetap terjaga.

[sumber: http://goo.gl/CUooEg%5D

Kegunaan lainnya–dan ini juga terlintas dlm benak saya–, ialah: “kita akan bisa jauh lebih nyaman dan aman saat membuka/mengirim data email pribadi, transaksi internet banking, dan lain sebagainya yang memerlukan atau menggunakan akun seperti username atau ID untuk login dan bertransaksi. (Sebab) keamanan dalam transaksi selain dengan password dalam menggunakan akun kita di internet, keamanan http cookie atau browser cookies juga wajib diperhatikan … Kejahatan di internet yang menggunakan akun orang lain salah satunya adalah dengan cara mendapatkan informasi cookie di/dari komputer korban.” [sumber: http://goo.gl/d62QqF%5D

Sampai di situ, terima kasih untuk “incognito browser”!

Setelah jendela perambah kita tutup, kita “bersih” kembali; seolah tak terjadi apa-apa; tak ada jejak; tak akan ada tuduhan apa pun untuk segala sesuatu yang telah kita tapaki.

Tapi, dari situlah permasalahan bermula.

Dari situlah seekor ikan yang tengak melenggak-lenggok dengan perut lapar mulai melirik benda yang mengapung dan tenggelam di air tenang; ia tergoda mendekati; makin dekat … makin dekat … “cacing yang lezat, inilah akhir hidupmu …” katanya.

Sejurus kemudian muncul teriakan: “STRIKE …!!!” Terdengar suara Bayu Noor dan Dudit Widodo di atas perahu. “Mancing Mania … MANTAP! [untunglah, mereka me-release lagi sang ikan]

LOL

***
Saya tidak membuka banyak sumber, jadi mungkin pendapat saya tidak sepenuhnya valid. Dan seperti apa yang saya duga, hampir semua sumber itu mengupas kegunaan “incognito browser” guna bisa merambah dunia maya dengan “aman dan nyaman”.
Ya … tak ada alasan untuk saya menolak pendapat ini. Teknologi memudahkan dan bisa memberi sedikit rasa aman. Pikiran positif saya, tujuan semula memang mulia, untuk keamanan dan kenyamanan perambahan.
Namun, “incognito browser” menyediakan isi dunia di ruang-ruang pribadi–dan tanpa ada seorangpun yang (mungkin) akan tahu.
Makin menyedihkan, ketika kini perangkat untuk merambah dunia maya, sudah di genggaman–bahkan ada di tangan anak-anak kita; anak-anak zaman yang mungkin mereka tak sadar sedang dicekoki racun yang ditawarkan dunia. Ya, Si Jahat sedang menyelinap di ruang-ruang pribadi generasi ini–sudah dan sedang terjadi. Orangtua, guru, pendidik, siapa pun bisa merazia ponsel siswa/anak didik, membuka isinya–dan mereka tidak akan menemukan apa-apa; tak ada jejak apa pun. semua lenyap seiring tertutupnya halaman perambah.
Tunggu dulu, jangan hanya memojokkan anak-anak kita. Lihatlah diri sendiri, yang mungkin kini juga merasa aman dan nyaman; sebab, tak ada jejak atas apa pun yang kita tapaki di dunia maya. Dan, lagi-lagi, semua terjadi seiring tertutupnya halaman perambah.

Kawan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Hai jiwaku: “Jagalah hatimu baik-baik, sebab hatimu menentukan jalan hidupmu.”
Kalimat itu bukan kata-kata saya. Kalimat itu saya kutip dari Amsal 4:23. Kebenarannya absolut, kawan!

Di tengah riuh dan laju dunia ini, ruang-ruang pribadi yang diciptakan zaman ini justru makin sunyi.

Berjuang dan bertahanlah, Kawan.

[ah, apakah mungkin saya saja yang terlalu berlebihan menanggapi?! TIDAK!]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.