Dekapan Malaikat

Tag

, ,

Diam-diam aku meneteskan air mata tatkala kau mendekapnya. Cengeng, memang. Lalu aku memilih pergi. Aku ingat, kita pernah bercakap soal dirinya. Tentang suara-suara di sekitarnya yang tak menaruh hati kepadanya. Tentang orang yang lalu lalang tanpa menggubris. Tentang dunia yang bising dan enggan mengurusnya. Namun, engkau mengulurkan tangan. “Kemari, Sayang …,” sembari merentangkan tangan lebar-lebar.

Diam-diam aku menangis, tatkala ia menyambut uluran tanganmu; meringkuk dalam lingkar dekapanmu dan hanyut dalam lengkung senyummu. Lalu aku memilih pergi. Mula-mula ia yang datang. memegang tanganmu, dan menyalam, dan mencium. Kemudian menjauh. Tak lama lalu mendekat; duduk sembari meracau tak jelas, seperti biasanya. Namun, tiba-tiba, dengan malu-malu dan langkah gontai, ia mendekatimu. Entah seperti apa rentang tanganmu itu dipemandangannya; entah seperti apa ia memaknai senyummu. Seperti malaikat, barangkali. Ah, mungkinkah ia sudah tau apa-siapa itu malaikat?! Dan, ia rubuh di pelukanmu ….

Diam-diam, aku memperhatikan kedua matamu; berkaca-kaca. Dan aku memilih pergi. Pemandangan dari sudut pandangmu tentu lebih mengharukan; luapan perasaan dari hatimu yang tertimpa juta cintanya pastilah tak tuntas kau lukis. Duh, aku melihat Si Samaria yang baik hati.

*TPA Bethesda, suatu siang.

Bukan lagi cerita; kemudian rindu

Tag

, , , ,

aku ingin mendengar ceritamu
tentang negeri yang katanya ada salju
mengetuk sekali waktu
menghentikan langkah petualang hari
mengentakkan malam menuntun sunyi
ketika secangkir teh hangat lebih lekas lebur
menghangatkan
mengingatkan aku yang
sekadar meminjam wadak dan hidup
sesekali tenggelam dalam
pada palung bergulung gelung

bawa aku ke situ
ketika salju jadi ratu
sesaat sebelum sang semi tumbuh
aku ingin tahu
bagaimana luruhnya itu beku
dijemput matahari

ke situ aku menuju, seperti tak lelah ketika tujuan makin tak jauh, sebab ada yang menunggu aku pulang
tepat pada waktu.

aku kembali,
ingin kembali,
baru kembali.

@vagrannt
280413

Cinta yang Besar

Tag

, , , , ,

Pagi ini, sedikit berbeda–bahkan sangat berbeda. Mengantarmu bekerja, dan sesampainya di sana, pemandangan mengesankan itu begitu mencuri hati.

Lihat saja, ada opa-oma yang tersenyum lebar. Senyum seraya gumam sukacita menggandeng cucu mereka masuk ke sekolah. Si cucu, yang diapit opa-omanya, memang tak seriang mereka. Barangkali ada gelisah di hati si cucu, kenapa mereka yang mengantarkanku. Entahlah. Atau … ini hari pertamanya masuk sekolah. Entah juga.

Namun, sumingrah opa-oma itu layaknya tenaga yang menerangi pemandangan yang redup tanpa matahari pagi. Entah apa juga yang ada dalam benak mereka. Entah senyum itu senantiasa menghias wajah mereka. Sukacita dan cinta nan melimpah mengantarkan buah hati mereka. Mungkin di sekolah saja mereka senyum, sementara di tempat lain merengut. Bisa jadi.

Hanya saja, pemandangan itu sungguh mencuri hati. Pagi ini, aku (hanya) berdoa, supaya aku punya punya cinta yang besar seperti mereka. Cinta besar yang tentu bersumber dari Mahacinta. Cinta besar yang lahir dalam bentuk senyum sukacita di wajah: memandangi dan merawati siapa pun di sekelilingku; terlebih lagi cinta yang besar padamu dan Olan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.